Bagian 6- Tapak Penghancur Jantung



lanjutan dari bagian 5

“Tapi apakah kau tidak takut, dengan mendatangkan sedemikian banyak bala bantuan justru akan menjatuhkan nama besar Biro Ekspedisi Fuwei?”

“Kita bisa mengundang yang paling dekat dulu,” jawab Lin Zhennan. “Tentu saja kita datangkan para jago yang bergabung di cabang Hangzhou, Nanchang, dan Guangzhou. Kemudian kita undang pula para pendekar dari luar perusahaan yang berasal dari Fujian sini, serta tiga provinsi terdekat lainnya.”
Nyonya Wang mengerutkan kening dan bertanya, “Tapi apakah kau tidak takut, dengan mendatangkan sedemikian banyak bala bantuan justru akan menjatuhkan nama besar Biro Ekspedisi Fuwei?”

“Istriku, bukankah saat ini kau berusia tiga puluh sembilan tahun?” tiba-tiba Lin Zhennan bertanya masalah lainnya.

“Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya kau bertanya soal umur segala!” gerutu sang istri. “Aku lahir di tahun macan, memangnya kau sudah lupa?”
Lin Zhennan menjawab, “Tentu saja tidak. Aku berniat mengirimkan kartu undangan perayaan ulang tahunmu yang keempat puluh kepada para sahabat....”

“Apa? Kenapa ulang tahunku dimajukan? Apa aku sudah kelihatan tua?” sahut sang istri menukas.
“Bukan, bukan itu maksudku. Rambutmu masih hitam dan belum beruban, mana mungkin orang menganggapmu sudah tua?” ujar Lin Zhennan sambil menggeleng.

“Aku hanya menjadikan ulang tahunmu sebagai alasan untuk mendatangkan bala bantuan. Kalau mereka sudah berkumpul, barulah kita ceritakan maksud yang sebenarnya secara diam-diam. Nah, dengan demikian nama baik perusahaan kita tidak akan tercemar.”

Nyonya Wang terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Bagus juga. Terserah bagaimana pendapatmu. Kalau begitu, hadiah macam apa yang akan kau berikan kepadaku?”
“Sudah pasti hadiah yang paling berharga,” jawab Lin Zhennan dengan berbisik di telinga istrinya. “Tahun depan kita akan memiliki bayi yang gemuk dan lucu.”
“Huh, dasar bandot tua! Keadaan sudah seperti ini masih juga bercanda!” gerutu Nyonya Wang dengan muka merah.

Lin Zhennan tertawa sambil melangkah menuju kantor untuk menyuruh kasir menyiapkan kartu undangan. Ia sengaja bergurau demi mengurangi kegelisahan istrinya, meskipun perasaannya sendiri sangat tertekan. Diam-diam ia merasa bimbang juga dengan keputusannya itu. “Air dari tempat jauh susah memadamkan kebakaran di tempat dekat. Malam ini tentu akan terjadi peristiwa lagi. Bila harus menunggu datangnya bala bantuan, aku khawatir saat mereka datang, perusahaan ini sudah tinggal nama,” katanya dalam hati.

Begitu tiba di depan pintu kantor, tiba-tiba Lin Zhennan disambut dua orang pegawainya yang terlihat sangat pucat karena ketakutan. Mereka berkata, “Celaka... celaka, Ketua!”
“Ada apa lagi ini?” tanya Lin Zhennan dengan jantung berdebar-debar.

“Tadi... Kasir Dong menyuruh Lin Fu pergi membeli peti mati. Tapi... tapi baru saja sampai di ujung Jalan Timur, mendadak Lin Fu roboh dan meninggal,” jawab salah seorang di antara mereka.
“Di mana? Di mana mayatnya sekarang?” tanya Lin Zhennan mendesak kedua pegawainya itu.
“Masih... masih di tempat dia terbunuh,” jawab si pegawai.

“Kenapa masih di sana? Lekas kalian bawa kemari!” seru Lin Zhennan memberi perintah. Dalam hati ia semakin geram karena si pembunuh kini berani menghabisi nyawa anak buahnya di siang hari.
Kedua pegawai pun menyahut, “Baik! Baik, Ketua!” Meskipun menjawab demikian, namun kaki mereka tidak bergeser sedikit pun.

“Ada apa lagi ini? Lekas pergi!” bentak Lin Zhennan.
Salah seorang kembali menjawab dengan suara gemetar, “Sebaiknya... sebaiknya Ketua pergi sendiri untuk melihatnya.”
Lin Zhennan yakin telah terjadi lagi suatu peristiwa aneh. Ia pun mendengus dan bergegas melangkah ke luar kantor. Di dekat pintu utama gedung telah berdiri tiga pengawal dan lima pengiring yang masing-masing memandang ke luar dengan wajah pucat.

“Ada apa ini?” tanya Lin Zhennan kepada mereka.
Belum sampai ada yang menjawab, ia menyaksikan sendiri altar batu di depan pintu kantornya telah ditulisi seseorang dengan menggunakan darah. Tulisan tersebut terdiri atas enam kata yang berbunyi: “Keluar pintu lebih sepuluh langkah, mati!”

Selain tulisan di altar, juga ditemukan garis panjang melintang yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari pintu gedung. Garis ini juga dibuat dari darah dengan lebar sekitar dua atau tiga senti, disertai tulisan: “Lewati garis ini dan kau akan mati”.
“Sejak kapan tulisan dan garis itu dibuat? Apa ada di antara kalian yang melihatnya?” tanya Lin Zhennan segera.

Salah seorang pegawai menjawab, “Ketika Lin Fu terbunuh, kami beramai-ramai langsung menuju ke tempat ia ditemukan. Akibatnya, tidak seorang pun dari kami yang melihat ke arah sini. Entah siapa pula yang berani bercanda membuat tulisan ini.”

Lin Zhennan semakin geram dan penasaran. Ia pun berteriak lantang, “Aku yang bermarga Lin sudah bosan hidup! Bunuh saja aku karena berani melewati garis yang kau buat! Aku ingin tahu seperti apa kau membunuhku!” Usai berteriak, ia pun melangkah dengan yakin mendekati garis darah tersebut.
“Ketua! Ketua!” seru dua orang pengawal mencoba mencegah sang majikan.

Namun Lin Zhennan tidak peduli. Ia sudah melangkah melewati garis darah yang masih basah tersebut. Dengan sepatunya ia berusaha menghapus tulisan darah di atas altar sambil berkata kepada para pegawainya, “Bajingan itu hanya menggertak saja. Kalian tidak perlu takut. Segeralah pergi membeli peti mati, sekalian mampir ke Biara Langit Damai di sisi barat kota untuk mengundang para biksu. Minta kepada mereka untuk mengadakan upacara doa besar-besaran selama beberapa hari di sini. Biarlah mereka yang mengusir semua pengaruh jahat dan arwah gentayangan di gedung ini.”

Tiga orang pengawal bergegas merapikan pakaian dan mengambil senjata, untuk kemudian melaksanakan perintah sang majikan. Keberanian mereka timbul setelah menyaksikan sendiri bagaimana Lin Zhennan melewati garis darah itu tanpa mendapat celaka. Dengan berjalan berdampingan mereka bertiga melewati garis itu pula. Setelah melihat ketiganya menghilang di ujung jalan, barulah Lin Zhennan masuk kembali ke dalam gedung.

Kepada jurutulisnya yang bermarga Huang, ia lantas berkata, “Jurutulis Huang, tolong kau tuliskan beberapa undangan kepada para sahabat dan pegawai kita di beberapa cabang untuk minum arak di sini, merayakan ulang tahun istriku.”

“Baik, Ketua! Lalu, tanggal berapa mereka harus datang kemari?” tanya Jurutulis Huang.
Belum sempat Lin Zhennan menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di luar ruangan. Lin Zhennan memiringkan kepala agar dapat mendengar lebih jelas. Terdengar suara seseorang roboh di lantai. Ia pun bergegas keluar dan melihat Pengawal Di, salah satu dari tiga orang pegawai yang tadi berangkat membeli peti mati telah tergeletak tak berdaya.

“Adik Di, bagaimana keadaanmu?” tanya Lin Zhennan sambil memapah bangun pegawainya itu.
“Mereka... mereka sudah mati semua. Hanya... hanya saya yang bisa berlari pulang,” jawab Pengawal Di dengan suara lemah.
“Apa kau mengenali para penyerang itu?” tanya Lin Zhennan mendesak.

“Sa... saya... tidak... tidak... ta...” jawab Pengawal Di dengan suara terputus-putus. Akhirnya ia pun menghembuskan napas terakhir pula menyusul kawan-kawannya yang lain.
Dalam waktu singkat peristiwa ini langsung tersebar. Lin Pingzhi dan ibunya bergegas keluar untuk melihat bagaimana wujud garis darah ancaman dari musuh tersebut. Tidak seorang pun pegawai yang berani keluar untuk mengambil mayat dua orang rekan Pengawal Di.


“Biarlah aku sendiri yang mengambil mayat mereka,” ujar Lin Zhennan dengan suara lantang.
“Jangan, Ketua! Ketua tidak boleh pergi!” sahut Jurutulis Huang mencegah. Ia lalu berseru kepada para pegawai, “Hei, semuanya! Barangsiapa bersedia mengambil jenazah kedua kawan kita di luar itu, maka dia akan mendapat hadiah tiga puluh tael perak.”

Meskipun Jurutulis Huang mengulangi pengumumannya sampai dua kali, namun tidak seorang pun yang berani melangkah keluar pintu. Tiba-tiba terdengar suara Nyonya Wang mencari-cari anaknya. “Mana Pingzhi? Ke mana perginya Pingzhi? Ping’er!... Ping’er!” teriak perempuan itu dengan suara penuh kecemasan.

“Tuan Muda! Tuan Muda!” seru para pegawai ikut berteriak-teriak memanggil. Mereka ikut panik karena sang majikan muda tiba-tiba menghilang entah ke mana.
“Aku di sini!” seru Lin Pingzhi dari luar gedung.

Semua orang gembira mendengarnya dan beramai-ramai menuju ke luar gedung. Terlihat Lin Pingzhi muncul dari ujung jalan sambil memanggul mayat kedua pegawainya masing-masing di bahu kiri dan kanan. Lin Zhennan dan istrinya pun menyambut dengan senjata di tangan demi melindungi putra mereka itu. Serentak para pegawai bersorak memuji, “Tuan Muda memang seorang pemberani! Sungguh tidak kenal takut!”

Lin Zhennan dan Nyonya Wang juga merasa bangga melihat keberanian putra mereka itu. Terdengar Nyonya Wang menegur, “Nak, kau sangat gegabah. Kedua pengawal ini memang orang baik. Tapi usahamu untuk mengambil jasad mereka sungguh terlalu berbahaya.”

Lin Pingzhi hanya tersenyum. Dalam hati ia berpikir sedih, “Gara-gara perbuatanku membunuh satu orang, sekarang banyak pegawai yang menjadi korban balas dendam. Kalau aku tidak berani bertanggung jawab, sungguh tidak pantas aku disebut manusia.”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang, “Hah!... Kakek... Kakek Hua juga meninggal!” Seorang pesuruh dengan muka pucat berlari-lari melapor kepada Lin Zhennan, “Ketua, Kakek Hua telah keluar melalui pintu belakang hendak pergi ke pasar berbelanja sayuran. Tahu-tahu ia sudah ditemukan mati pada jarak belasan langkah dari pintu. Ternyata... ternyata di belakang juga ada garis darah dengan kalimat ancaman yang sama!”

Kakek Hua yang dimaksud adalah jurumasak Keluarga Lin. Kepandaiannya dalam menciptakan masakan lezat menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat para pejabat sehingga menggunakan jasa layanan Biro Ekspedisi Fuwei. Bisa dikatakan Kakek Hua ini adalah senjata rahasia andalan Lin Zhennan untuk menarik perhatian para tamu dari kalangan terhormat.

Mendengar laporan tersebut Lin Zhennan menggigil dan berpikir, “Kakek Hua hanya seorang jurumasak. Dia bukan pengawal, juga bukan pengiring kereta. Dalam tata krama perampokan sekalipun hanya para pengawal yang boleh dibunuh, sedangkan kusir kereta dan kuli angkut biasanya dibiarkan hidup. Tapi kali ini, mengapa semua penghuni gedung seolah hendak dibinasakan semua?”
Kematian Kakek Hua membuat semua pegawai bertambah panik. Lin Zhennan pun berseru,

“Tetap tenang, jangan gelisah! Kawanan bangsat itu hanya berani main sergap secara sembunyi-sembunyi. Bukankah kalian melihat sendiri bagaimana aku tadi bersama istri dan anakku tidak diserang meskipun berani melewati garis darah di halaman depan? Mereka tidak berani berbuat apa-apa.”

Semua pegawai mengangguk membenarkan ucapan Lin Zhennan. Namun, tetap saja tiada seorang pun dari mereka yang berani melangkah keluar. Lin Zhennan dan Nyonya Wang hanya bisa saling pandang. Pasangan suami-istri itu kini benar-benar merasa lemah dan terdesak.

Malam harinya Lin Zhennan menunjuk dua puluh orang pegawainya untuk menjaga keamanan. Namun ketika ia keluar untuk memeriksa, ternyata para pegawai itu tidak melakukan ronda sebagaimana mestinya. Mereka terlihat hanya duduk bergerombol di ruang tengah. Tidak seorang pun yang berani berjaga di luar; bahkan, untuk ke kamar kecil saja setiap orang minta ditemani.

Ketika melihat sang majikan muncul, para pegawai itu merasa malu, namun tetap saja tidak seorang pun lantas keluar untuk meronda. Lin Zhennan sendiri merasa maklum karena musuh memang benar-benar ganas dan berilmu tinggi; sementara ia sendiri merasa tidak memiliki jalan keluar yang lebih baik. Maka itu, ia pun tidak memarahi mereka, bahkan mengambilkan arak dan makanan untuk dinikmati bersama. Karena dicekam ketakutan, mereka makan dan minum tanpa bersuara. Tidak lama kemudian, sebagian besar dari mereka sudah tertidur pulas karena mabuk.

Hari berikutnya lima orang pegawai biro tampak memacu kuda masing-masing meninggalkan gedung kantor. Setelah diselidiki ternyata mereka memutuskan untuk mengungsi daripada menderita tekanan batin seperti itu. Lin Zhennan hanya menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, lalu berkata, “Ketika datang gangguan, burung-burung beterbangan ke segala arah. Kami dari Keluarga Lin tidak mampu melindungi kalian. Saudara-saudara silakan pergi kalau merasa lebih aman jika meninggalkan gedung ini!”

Para pegawai tidak menjawab. Beberapa pengawal tampak mencaci maki kelima rekan mereka yang dianggap pengecut dan tidak setia kawan itu. Beberapa pegawai lainnya hanya terdiam dan menghela napas panjang. Dalam hati mereka pun ingin secepatnya terbebas dari ancaman maut yang mengintai setiap saat itu.

Tiba-tiba pada sore harinya datang lima ekor kuda mengangkut mayat kelima pegawai yang kabur tadi siang. Kelima orang itu berusaha kabur dengan harapan bisa menyelamatkan diri namun justru mengantarkan nyawa lebih cepat kepada si pembunuh.

Lin Pingzhi menantang musuh misterius.
Melihat ini, perasaan dendam Lin Pingzhi semakin menjadi-jadi. Dengan menghunus pedang ia menerjang keluar dan berdiri beberapa langkah di luar garis darah sambil berteriak menantang si pembunuh,

“Hei, kau yang ada di sana! Aku, Lin Pingzhi, adalah orang yang telah membunuh si marga Yu dari Szechwan. Laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Jika kau ingin membalas dendam, maka tusukkan pedangmu ke jantungku!

 Aku tidak akan menolak! Tapi kau telah membantai orang-orang yang tidak bersalah. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Huh, kaum pengecut macam apa pula kalian ini? Selama kalian tidak berani menampakkan diri, maka kalian pantas disebut sebagai kawanan anjing busuk!”

Lin Pingzhi berteriak semakin keras dan lantang; bahkan, sambil membuka baju dan menepuk-nepuk dada. “Lekas kalian keluar dan bawa golokmu kemari! Aku seorang laki-laki sejati, tidak takut mati! Apakah kalian takut berdiri di hadapanku dan bertarung secara jantan? Dasar kalian memang pengecut busuk! Binatang rendah!”

Orang-orang yang lewat di jalanan hanya memandang dengan heran tanpa berani mendekat karena telah tersiar kabar bahwa Biro Ekspedisi Fuwei adalah perusahaan maut. Lin Zhennan dan sang istri bergegas keluar pula untuk melindungi putra tunggal mereka itu. Kemarahan mereka bertiga yang sudah tertumpuk selama beberapa hari ini akhirnya meledak sudah. Dengan sangat gusar ketiganya berteriak-teriak menantang musuh yang tak terlihat itu.

Para pegawai biro hanya menyaksikan dari dalam gedung dengan perasaan sangat kagum terhadap ketiga majikan tersebut. Mereka mengetahui bahwa Lin Zhennan seorang yang berkepandaian tinggi, sementara Nyonya Wang terkenal sebagai wanita pemberani. Akan tetapi perbuatan Lin Pingzhi benar-benar menarik perhatian. Biasanya, sang majikan muda bersikap lemah lembut seperti perempuan, namun kali ini terlihat begitu gagah dan tidak kenal takut.

“Garis kematian apa pula ini? Aku telah melangkahinya dan aku ingin tahu bagaimana kalian membunuhku,” lanjut Lin Pingzhi sambil melangkah lebih jauh lagi melewati garis tersebut sambil mengacungkan pedang.

“Benar, benar!” sahut sang ibu. “Para pengecut itu hanyalah kaum rendahan. Kalian takut berhadapan muka dengan putraku.” Usai berkata ia pun maju dan menggandeng tangan Lin Pingzhi, kemudian mengajak putranya itu kembali ke dalam gedung.

Lin Pingzhi terlihat gemetar karena kemarahannya sudah memuncak. Begitu masuk ke dalam kamar ia langsung merebahkan diri di atas ranjang dan menangis keras-keras.

Lin Zhennan memahami perasaan putra tunggalnya itu. Sambil membelai kepala Lin Pingzhi, ia berkata, “Nak, kau tadi sungguh berani. Keluarga Lin bangga kepadamu. Tapi apa boleh buat? Musuh tetap tidak mau menampakkan batang hidungnya. Sebaiknya kita beristirahat saja untuk saat ini.”
Lin Pingzhi terus saja menangis sampai akhirnya tertidur karena letih.

Malam harinya setelah makan bersama, Lin Pingzhi mendengar pembicaraan ayah dan ibunya tentang rencana beberapa orang pengawal yang hendak membuat jalur rahasia berupa terowongan di bawah tanah. Dengan cara ini mereka bisa meloloskan diri tanpa harus melangkahi garis ancaman. Jika mereka tetap berada di dalam gedung kantor, cepat atau lambat, kematian akan mendatangi mereka.

Nyonya Wang berkata, “Biarkan saja kalau mereka hendak menggali terowongan rahasia. Tapi, aku takut... aku takut....”

Lin Zhennan menyadari perasaan sang istri. Rupanya Nyonya Wang khawatir jangan-jangan rencana kabur melalui terowongan ini juga akan mengalami kegagalan seperti yang dilakukan lima pengawal siang tadi.

“Sebaiknya aku pergi memeriksa,” sahut Lin Zhennan. “Jika terowongan bawah tanah itu selesai digali, tentu ini bisa menjadi jalan keluar yang aman untuk semua pegawai kita.”
Usai berbicara, ia pun melangkah pergi dan sejenak kemudian kembali lagi sambil berkata, “Rencana hanya tinggal rencana.

Tidak seorang pun yang berani turun tangan untuk mulai menggali.”
Malam itu, Lin Pingzhi dan kedua orang tuanya merasa sangat letih. Ketiganya pun tertidur pulas sejak makan malam berakhir. Sementara itu para pegawai biro seolah sudah berputus asa. Mereka hanya pasrah menunggu nasib sehingga tidak seorang pun yang menjalankan tugas meronda sebagaimana yang telah dijadwalkan.

Tepat tengah malam Lin Pingzhi dibangunkan seseorang. Seketika ia pun mengambil pedang yang terselip di bawah bantal. Namun hal itu segera dibatalkannya karena yang datang tidak lain adalah sang ibu sendiri.

“Ping’er, ini Ibu. Tolong jangan bersuara!” Setelah melihat anaknya tenang, Nyonya Wang melanjutkan, “Ayahmu sudah pergi sejak tadi namun sampai kini belum juga kembali. Mari kita cari bersama-sama!”

“Ayah ke mana?” tanya Lin Pingzhi dengan perasaan khawatir.
“Entahlah,” jawab sang ibu.

Sambil memegang senjata masing-masing, Lin Pingzhi dan Nyonya Wang melangkah ke luar kamar. Mula-mula mereka mencari Lin Zhennan ke ruang depan, namun yang ada hanya para pegawai saja. Di bawah cahaya lilin, tampak belasan pegawai sedang sibuk bermain kartu. Rupanya mereka sudah sangat putus asa sehingga tidak peduli lagi dengan ancaman si pembunuh. Nyonya Wang mengajak Lin Pingzhi mencari ke tempat lain. Sengaja mereka tidak menceritakan tentang hilangnya Lin Zhennan karena khawatir para pegawai menjadi panik dan keadaan pun bertambah rumit.

Lin Pingzhi dan ibunya mencari ke berbagai tempat namun tidak juga menemukan di mana sang ayah berada. Keduanya sama-sama gelisah memikirkan keselamatan Lin Zhennan. Pikiran buruk pun datang menghantui.

Tiba-tiba terdengar suara-suara aneh dari arah ruang senjata. Lin Pingzhi pun menghampiri dan mengintip ke dalam. Betapa gembira hati pemuda itu ketika mengetahui Lin Zhennan ternyata berada di dalam sana.

“Rupanya Ayah ada di sini!” serunya perlahan.
Lin Zhennan tampak sedang mengerjakan sesuatu dan langsung menoleh ketika putranya memanggil. Lin Pingzhi sendiri langsung terdiam melihat raut muka sang ayah tampak tegang dan menyeramkan, seolah baru saja menemukan sesuatu yang aneh. Rasa gembiranya seketika berubah menjadi ngeri.
Nyonya Wang segera masuk ke dalam untuk memeriksa.

Tampak darah berceceran di lantai. Lin Zhennan sendiri sedang sibuk mengamati sesosok mayat yang terbaring di atas tiga bangku berjajar. Mayat tersebut adalah Pengawal Huo yang tadi siang mencoba kabur bersama keempat rekannya, namun kembali dalam keadaan tewas. Perlahan-lahan, Lin Pingzhi ikut masuk pula dan menutup pintu, kemudian berdiri di belakang sang ayah.

Lin Zhennan telah membedah dada Pengawal Huo dan mengeluarkan jantungnya. Tampak jantung itu sudah hancur menjadi beberapa bagian. Dengan suara gugup Lin Zhennan pun berkata, “Tidak salah lagi! Ini adalah... ini adalah...”

“Tapak Penghancur Jantung!” seru istrinya. “Ini adalah ilmu kebanggaan Perguruan Qingcheng.”
Lin Zhennan mengangguk dan terdiam. Kepalanya menunduk untuk sekian lama.
Lin Pingzhi baru sadar kalau ayahnya sejak tadi menghilang karena sibuk meneliti mayat Pengawal Huo dengan tujuan untuk mencari tahu penyebab kematiannya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama