Bagian 3 - Pembunuhan Tanpa Luka



Judul asli: Xiaoao Jianghu
Karya      : Jin Yong (Chin Yung)


Beberapa kali Lin Zhennan mengetuk pipa cangklongnya di atas lantai untuk mengeluarkan abu tembakau. Sejenak kemudian ia kembali berkata, “Ilmu silat Ayah tidak sehebat kakekmu, apalagi dibandingkan kakek buyutmu.

Akan tetapi, keterampilan ayahmu ini dalam mengelola perusahaan lebih baik daripada Beliau berdua. Kakek buyutmu mendirikan perusahaan ini dan membuka empat kantor di Fujian, Kanton, Zhejiang, dan Jiangsu. Selama kepemimpinan Ayah, telah dibuka enam cabang baru di Shandong, Hunan, Hebei, Hubei, Jiangxi, dan Guangxi. Apa kau tahu rahasia kesuksesan Ayah?

Tentu saja ‘menciptakan banyak sahabat dan sedikit musuh’. Ingat ini dengan baik, perusahaan kita bernama ‘Fuwei’, yang mengandung makna: ‘rejeki dan wibawa’. Rejeki lebih utama daripada wibawa.

Rejeki bisa datang kalau kita memiliki banyak teman dan sedikit musuh. Sebaliknya, kalau perusahaan kita bernama ‘Weifu’, itu berarti kita lebih mengutamakan wibawa daripada rejeki. Wibawa bisa ditegakkan dengan bermain kasar dan mengandalkan kekuatan. Tentu saja ini bukan sifat keluarga kita, hahaha.”

Lin Pingzhi ikut tertawa, meskipun tidak mengandung rasa gembira yang sesungguhnya.
Ternyata Lin Zhennan belum juga menyadari kegelisahan putranya itu. Ia masih saja bercerita panjang lebar, “Pepatah mengatakan: ‘Kuasai Szechwan setelah menaklukkan Gansu’. Namun, perusahaan kita mengatakan: ‘Kuasai Szechwan setelah menaklukkan Hubei’. Perusahaan pengawalan kita pertama kali berdiri di Fujian sini, kemudian merambah ke barat melalui Jiangxi dan Hunan, sampai akhirnya berhenti di Hubei.

Lantas, mengapa kita tidak meneruskannya hingga ke Szechwan? Szechwan adalah provinsi yang paling subur dan makmur. Orang-orang menyebut Szechwan sebagai surga dunia. Banyak penduduk kaya raya hidup di sana. Dari daerah itu kita bisa merambah lagi ke utara hingga mencapai Shanxi, serta ke selatan mencapai Yunnan dan Guizhou.

Dengan demikian perusahaan kita paling tidak akan bertambah besar tiga kali lipat dari sekarang. Hanya saja, daerah Szechwan terkenal sebagai kandang harimau mendekam dan naga bersembunyi. Banyak orang sakti tinggal di daerah itu. Maka, kita harus menjalin hubungan baik dengan dua perguruan silat ternama di sana, yaitu Perguruan Qingcheng dan Emei.”

Lin Zhennan terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Sudah tiga tahun ini, setiap tahun baru Ayah selalu mengutus orang secara khusus untuk mengantarkan hadiah-hadiah berharga ke Kuil Cemara Angin di Gunung Qingcheng dan Kuil Puncak Emas di Gunung Emei. Pendeta Jinguang ketua Perguruan Emei menerima utusan kita dengan ramah dan menjamu makan pula. Akan tetapi, semua hadiah yang kita berikan dikembalikannya semua tanpa membuka segel sedikit pun. Sebaliknya, Pendeta Yu ketua Perguruan Qingcheng lebih tertutup sifatnya.

Murid-muridnya selalu menghadang utusan kita di lereng gunung, dan mengatakan bahwa guru mereka sedang bermeditasi tingkat tinggi sehingga tidak bisa menerima tamu. Mereka mengaku telah memiliki segala macam barang di dalam kuil sehingga tidak perlu menerima hadiah dari luar. Jangankan untuk menemui Pendeta Yu, utusan kita bahkan tidak mengetahui ke arah mana pintu Kuil Cemara Angin menghadap. Sesampainya di sini para utusan yang kita kirim selalu mengeluh. Kalau saja tidak teringat pada pesan Ayah yang melarang mereka mengumbar kemarahan, mungkin mereka sudah berkelahi dengan orang-orang yang tidak tahu diri itu.”

Sampai di sini Lin Zhennan lantas bangkit dari tempat duduknya. Dengan nada gembira ia melanjutkan, “Kau tahu, tidak? Setelah sekian lama akhirnya Pendeta Yu bersedia menerima hadiah yang kita kirim. Bahkan, ia telah mengutus empat orang muridnya untuk membalas kunjungan ke Fujian sini…”

“Empat orang murid? Bukannya dua saja?” mendadak Lin Pingzhi menyela.
“Empat orang murid!” sahut Lin Zhennan yakin. “Coba pikir, Pendeta Yu rupanya memandang penting urusan ini. Bukankah ini suatu penghargaan untuk Biro Fuwei kita? Maka itu, Ayah pun mengirim pesan kepada cabang-cabang kita di Jiangxi, Hunan, dan Hubei agar memberi sambutan sebaik-baiknya kepada empat tamu agung tersebut di sepanjang jalan.”
“Ayah, apakah orang Szechwan kalau bicara suka menyebut orang lain sebagai ‘anak bulus’ atau ‘anak kelinci’ segala?” tanya Lin Pingzhi tiba-tiba.

“Ah, itu hanya ucapan kaum kasar,” jawab Lin Zhennan sambil tertawa. “Orang kasar ada di mana-mana dan ucapan mereka sudah tentu kasar pula. Coba lihat para pegawai kita, baik itu pengawal ataupun pengiring kereta. Pada saat berjudi dan minum arak mereka juga suka mengumpat dan memaki. Bahkan jauh lebih kasar dan kotor daripada ucapan orang Szechwan yang kau maksudkan itu. Memangnya ada masalah apa kau menanyakan hal ini?”
“Tidak ada,” sahut Lin Pingzhi gugup.

Lin Zhennan kembali berpesan, “Nanti kalau keempat murid Qingcheng itu datang, kau harus bersikap akrab pada mereka. Perhatikan dan pelajarilah gaya-gaya murid dari perguruan ternama. Menjalin persahabatan dengan mereka tentu akan sangat bermanfaat bagimu di kemudian hari”
Lin Pingzhi larut dalam pikirannya sementara sang ayah sibuk bercerita panjang lebar. Pemuda itu merasa semakin gelisah selama peristiwa pembunuhan di kedai arak tadi belum ia sampaikan kepada sang ayah. Ia berpikir mungkin lebih baik bercerita kepada ibunya saja terlebih dahulu.

Setelah makan malam, Lin Pingzhi dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tengah untuk bercakap-cakap. Lin Zhennan membahas pada bulan enam yang akan datang saudara dari istrinya akan berulang tahun. Istrinya itu – atau ibu Lin Pingzhi – berasal dari Keluarga Golok Emas Wang yang sangat terkenal di Kota Luoyang. Dalam hal ini Lin Zhennan merasa bingung hendak memberikan hadiah ulang tahun macam apa kepada saudara iparnya tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Menyusul kemudian beberapa orang pegawai masuk ke dalam ruangan.

“Ada apa ini?” sahut Lin Zhennan bertanya.
Tiga orang pegawai tampak menggigil ketakutan. Salah seorang yang paling depan berkata gugup, “Ketua... Ketua....”

“Ada masalah apa? Lekas katakan!” seru Lin Zhennan dengan perasaan mulai kesal.
“Bai Er… Bai Er telah tewas,” jawab seorang pegawai yang tidak lain adalah Chen Qi.
Lin Zhennan terkejut dan segera bertanya, “Siapa yang membunuh dia? Pasti kalian berjudi dan berkelahi, bukan?” Dalam hati ia sangat gusar. Sungguh berat baginya mengelola perusahaan yang memiliki banyak orang kasar di dalamnya. Sering sekali mereka berkelahi tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau perkelahian itu berakhir dengan kematian dan terjadi di kota besar, sudah pasti akan mengundang banyak masalah.

“Bukan, Ketua! Bukan seperti itu!” jawab Chen Qi. “Tadi sewaktu hendak membuang hajat, Xiao Li melihat Bai Er sudah tergeletak di kebun sayur di samping kakus. Mayatnya sudah kaku, namun tidak terdapat luka sama sekali. Tidak seorang pun yang tahu bagaimana ia meninggal. Mungkin saja… mungkin saja ia terkena penyakit maut sehingga mati mendadak.”
Lin Zhennan menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri. “Coba kulihat ke sana,” ujarnya sambil melangkah pergi. Lin Pingzhi mengikuti di belakang sang ayah menuju kebun sayur tersebut.

Sesampainya di tengah kebun, tampak beberapa orang pengawal dan pengiring sudah berkerumun di sana. Begitu sang pemimpin perusahaan datang, mereka langsung bergeser memberi jalan. Lin Zhennan melihat pakaian Bai Er sudah terbuka tapi di tubuhnya tidak terdapat noda darah sedikit pun. Segera ia bertanya kepada Pengawal Zhu yang berdiri di sebelahnya, “Apa benar tidak ada luka di tubuhnya?”

“Sudah saya periksa dengan teliti, sekujur tubuhnya ternyata tidak terluka sedikit pun. Tampaknya juga bukan mati karena keracunan,” jawab Pengawal Zhu.

Lin Zhennan mengangguk dan melihat wajah Bai Er memang biasa saja. Sedikit pun tidak ada tanda kebiru-biruan sebagaimana orang keracunan pada umumnya. Hanya saja pegawainya itu tampak mati dengan bibir tersenyum.

Lin Zhennan lantas berkata, “Beri tahu Kasir Dong untuk mengurus pemakaman. Juga kirimkan seratus tael perak kepada keluarga Bai Er.”

Kematian seorang pengiring rendahan sudah pasti tidak terlalu menyita pikiran Lin Zhennan. Setelah memberi perintah seperlunya ia pun kembali ke ruang tengah. Kepada Lin Pingzhi ia berkata, “Bukankah tadi Bai Er ikut pergi berburu bersamamu?”

“Benar,” jawab Lin Pingzhi. “Sewaktu pulang tadi ia masih segar bugar, siapa sangka mendadak langsung terserang penyakit dan meninggal.”

“Di dunia ini sudah biasa terjadi hal-hal yang mendadak,” ujar Lin Zhennan. “Kebaikan atau keburukan sering terjadi tiba-tiba dan sukar diperkirakan sebelumnya. Sudah lama Ayah ingin membuka jalan ke daerah Szechwan tetapi selalu gagal. Selama sepuluh tahun terakhir, Ayah memeras otak memikirkan hal ini. Siapa sangka Pendeta Yu tiba-tiba terbuka pikirannya dan mau menerima hadiah dari kita; bahkan, mengirimkan empat orang muridnya pula untuk balas berkunjung kemari.”
Lin Pingzhi berkata, “Ayah, meskipun Perguruan Qingcheng adalah perguruan terkemuka di dunia persilatan, tetapi nama Biro Ekspedisi Fuwei kita juga tidak rendah di mata kaum pendekar. Kita sudah mengirimkan hadiah kepada Pendeta Yu setiap tahun. Kalau sekarang ia mengirim orangnya kemari, bukankah ini hanya sekadar kunjungan balasan atau penghormatan timbal balik saja?”
“Kau tahu apa?” sahut Lin Zhennan sambil tertawa.

“Perguruan Qingcheng dan Emei sudah berdiri selama ratusan tahun, serta memiliki tidak sedikit bibit unggul di antara murid-muridnya. Kedua perguruan ini memang tidak sebesar Shaolin atau Wudang, namun hanya selisih sedikit di bawah Serikat Pedang Lima Gunung, yaitu perserikatan yang terdiri atas Perguruan Songshan, Taishan, Hengshan, Huashan, dan Henshan. Kakek buyutmu –yaitu Kakek Yuantu– memang telah menciptakan tujuh puluh dua jurus Ilmu Pedang Penakluk Iblis yang pernah mengguncangkan dunia persilatan.

Bisa dikatakan pada zaman itu tidak seorang pun yang mampu menandingi kakek buyutmu dalam hal ilmu pedang. Namun, setelah Kakek Yuantu meninggal dan ilmu pedang mahasakti itu diwarisi kakekmu, ternyata banyak mengalami kemunduran. Lebih-lebih ketika diwariskan kepada Ayah, malah semakin mundur lagi. Keluarga Lin dalam tiga generasi terakhir ini masing-masing hanya memiliki seorang putra tunggal saja dan tidak menerima murid dari luar.

hanya mengandalkan kekuatan kita berdua, sudah pasti kita tidak sebanding dengan perguruan-perguruan silat tersebut.”

Lin Pingzhi yang masih penasaran terus mendesak, “Tapi bukankah kita bisa mengumpulkan semua kekuatan perusahaan kita yang tersebar di sepuluh provinsi? Bersama-sama pasti kita mampu menghadapi kekuatan Perguruan Shaolin, Wudang, Emei, Qingcheng, serta Serikat Pedang Lima Gunung?”
Lin Zhennan merasa geli dan menjawab, “Nak, tidak apa-apa kalau kau bicara seperti itu di depan Ayah. Namun kalau kau bicara di luar sana dan didengar orang lain, tentu akan mendatangkan banyak masalah. Sebanyak delapan puluh empat orang pengawal kita yang tersebar di sepuluh kantor cabang memang memiliki kepandaian sendiri-sendiri. Kalau mereka digabung menjadi satu tentu tidak akan kalah menghadapi golongan mana pun. Akan tetapi, apa manfaatnya andaikata perusahaan kita dapat mengalahkan perguruan-perguruan itu? Sebagai perusahaan ekspedisi, kita seharusnya mencari banyak sahabat, bukannya mencari musuh. Kita tidak akan menderita kerugian apa-apa dengan bersikap rendah hati.”

Tiba-tiba kembali terdengar suara ribut-ribut di luar, “Celaka! Pengawal Zheng juga meninggal!”
Lin Zhennan dan Lin Pingzhi sama-sama terperanjat. Bahkan, Lin Pingzhi sampai melonjak dari kursi dan berkata dengan suara gemetar, “Mereka pasti da… datang untuk membalas…” Belum selesai perkataannya, dengan cepat ia menahan mulut. Lin Zhennan sendiri sudah bergegas keluar sehingga tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan putranya tadi.

Chen Qi datang dengan tergesa-gesa. “Ce… celaka, Ketua! Ini gawat! Pe… Pengawal Zheng juga telah di… ambil nyawanya oleh… oleh hantu jahat dari Szechwan!” serunya dengan nada gugup.
“Hantu jahat dari Szechwan apa lagi ini? Omong kosong!” bentak Lin Zhennan sambil memalingkan muka.
“Saya bicara be... benar, Ketua,” sahut Chen Qi gugup. “Hantu itu... orang dari Szechwan itu sangat ganas semasa hidupnya. Tentu dia semakin ganas setelah mati...,” Begitu menoleh ke arah Lin Pingzhi dan melihat raut muka sang tuan muda terlihat gusar, ia tidak berani bicara lagi.
Lin Zhennan lalu bertanya, “Kau bilang Pengawal Zheng telah meninggal? Di mana jasadnya kini dan bagaimana dia bisa mati?”

Saat itu beberapa pegawai yang lain juga sudah berlarian datang. Seorang pengawal menjawab, “Pengawal Zheng meninggal di dalam kandang. Kematiannya sama persis dengan Bai Er. Tubuhnya tidak terluka sedikit pun, juga tidak mengeluarkan darah setetes pun. Wajahnya juga tidak terlihat bengkak atau membiru. Sepertinya... sepertinya mereka berdua terkena gangguan setan jahat sewaktu berburu bersama Tuan Muda tadi.”

Lin Zhennan mendengus dan berkata, “Huh, seumur hidup aku belum pernah melihat hantu atau setan semacamnya. Mari kita pergi melihatnya.” Usai bicara ia langsung bergegas keluar menuju ke tempat yang dimaksud.

Sesampainya di sana, jasad Pengawal Zheng tampak tergeletak di tanah, dengan kedua tangan masih memegang pelana kuda. Sepertinya ia sedang melepas pelana dari punggung kuda ketika tiba-tiba roboh binasa. Sama sekali tidak ditemukan pula tanda-tanda bertarung melawan orang lain.

Pengawal Zheng tewas secara misterius.
Hari sudah mulai gelap. Lin Zhennan menyuruh seorang anak buahnya mengambil lampu. Perlahan-lahan ia membuka pakaian Pengawal Zheng. Diperiksanya dengan teliti sekujur mayat pegawainya itu, ternyata memang tidak terdapat luka sedikit pun. Selain itu juga tidak terdapat patah tulang sama sekali, termasuk tulang jari sekalipun.
Lin Zhennan tidak percaya takhayul. Kematian Bai Er tadi dianggapnya sebagai suatu kebetulan saja. Namun sekarang Pengawal Zheng juga mati dalam keadaan serupa. Apabila keduanya mati karena diserang penyakit, mengapa tidak terdapat bintik-bintik merah atau hitam pada tubuh mereka? Mungkinkah kematian mereka berhubungan dengan suatu hal dalam kegiatan berburu putranya tadi?
Berpikir demikian, Lin Zhennan lantas mengajukan pertanyaan kepada Lin Pingzhi. “Selain Pengawal Zheng dan Bai Er, yang ikut pergi berburu bersamamu adalah Pengawal Shi dan dia, bukan?” ujarnya sambil menunjuk wajah Chen Qi.

Lin Pingzhi hanya mengangguk tanpa bersuara.
“Kalau begitu, kalian berdua ikut aku!” kata Lin Zhennan. Ia kemudian berkata kepada seorang pengiring lainnya, “Coba kau panggil Pengawal Shi agar datang ke ruang timur. Aku ingin bicara dengannya.”
Sesampainya di ruang timur, Lin Zhennan mengambil tempat duduk dan bertanya, “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Sadar bahwa dirinya tidak dapat menutupi peristiwa itu lagi, Lin Pingzhi terpaksa menceritakan semua pengalamannya sewaktu pulang dari berburu siang tadi. Ia bercerita mula-mula rombongannya singgah untuk minum di sebuah kedai arak.

Kemudian datang dua orang Szechwan yang bersikap kurang ajar terhadap gadis penjual arak di kedai itu.

Lin Pingzhi turun tangan dan bertarung melawan salah seorang pemuda dari Szechwan tersebut. Akhirnya, orang itu berhasil mencengkeram tengkuknya dan menekannya sampai menyentuh tanah. Pada saat itulah Lin Pingzhi mencabut sebilah pisau belati dari balik sepatu dan digunakannya untuk membunuh lawan. Pengawal Shi lantas mengubur mayat orang Szechwan itu di dalam kebun sayur, dan memberikan beberapa tael perak kepada pemilik kedai sebagai penutup mulut.

Semakin mendengarkan cerita itu, Lin Zhennan semakin penasaran. Namun demikian, sebagai seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, ia merasa wajar jika anaknya berkelahi dan membunuh orang. Dengan tenang tanpa bersuara ia mengikuti cerita Lin Pingzhi sampai selesai.
Setelah merenung sejenak, Lin Zhennan lantas bertanya, “Apakah kedua orang itu tidak mengatakan dari aliran atau golongan mana mereka berasal?”

“Tidak,” sahut Lin Pingzhi.
“Apakah dari ucapan dan tingkah laku mereka, kau menemukan suatu hal yang luar biasa?” tanya Lin Zhennan lebih lanjut.

“Tidak ada yang aneh dengan mereka. Hanya saja, orang bermarga Yu itu mengatakan…”
“Apa? Jadi, orang yang telah kau bunuh itu bermarga Yu?” sahut Lin Zhennan menukas.
“Ya. Aku mendengar rekannya memanggil dia dengan sebutan ‘Adik Yu’. Tapi aku sendiri juga kurang begitu yakin. Mereka berasal dari daerah lain, sudah tentu logat bahasa mereka berbeda dengan kita,” jawab Lin Pingzhi.

Mendengar itu, Lin Zhennan menggelengkan kepala dan menggumam, “Tidak mungkin! Tidak mungkin bisa kebetulan seperti ini. Pendeta Yu berkata hendak mengirim orang-orangnya kemari. Namun, mengapa mereka bisa sampai di Fuzhou secepat ini? Memangnya mereka punya sayap?”
Lin Pingzhi terperanjat dan segera bertanya, “Apakah Ayah khawatir kedua orang itu berasal dari Perguruan Qingcheng?”

Lin Zhennan tidak menjawab. Selang sejenak, ia berkata sambil menggerakkan tangan, “Sewaktu kau menyerang dengan jurus Tapak Semesta, bagaimana cara dia menangkis pukulanmu?”
“Dia tidak dapat menangkis sehingga terkena tamparanku,” sahut Lin Pingzhi.
“Bagus sekali! Bagus sekali!” seru Lin Zhennan sambil tersenyum.

Sejak tadi suasana di ruangan itu sangat tegang, namun kini agak mencair oleh pujian Lin Zhennan tersebut. Lin Pingzhi sendiri ikut tersenyum. Perasaannya yang tertekan menjadi agak longgar.
“Sewaktu kau menyerang lagi dengan gerakan ini, bagaimana ia menyerang balik?” tanya Lin Zhennan sambil memperagakan suatu contoh serangan.

Lin Pingzhi menjawab, “Waktu itu aku sedang marah sehingga tidak melihat dengan jelas bagaimana sikapnya. Yang pasti, aku berhasil memukul dadanya.”

Mendengar itu, raut muka Lin Zhennan tampak lebih tenang. Ia berkata, “Bagus sekali, bagus sekali! Serangan kita memang harus demikian. Karena dia tidak mampu menangkis sama sekali, rasanya tidak mungkin kalau dia memiliki hubungan dengan Pendeta Yu dari Perguruan Qingcheng.”
Rupanya ucapan “bagus sekali” yang diucapkannya beberapa kali tadi bukan dimaksudkan untuk memuji kemenangan Lin Pingzhi, tetapi disebabkan oleh rasa lega karena orang yang mati itu ternyata bukan anggota Perguruan Qingcheng.

Lin Zhennan berpikir orang Szechwan banyak yang bermarga Yu dan mahir ilmu silat. Karena orang itu bisa dibunuh putranya, sudah pasti ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, serta tidak mungkin pula berasal dari Perguruan Qingcheng.

Sambil jari tengah tangannya mengetuk meja beberapa kali, ia kembali bertanya lebih lanjut, “Lalu, bagaimana cara dia mencengkeram tengkukmu?”

Lin Pingzhi langsung menggerakan tangan untuk memperagakan bagaimana dirinya dibekuk oleh si marga Yu sampai tidak bisa berkutik.

Chen Qi yang sudah mulai berkurang rasa takutnya ikut berkata, “Kemudian Bai Er mencoba menikam punggung orang itu dengan tombak, tapi tahu-tahu dia sudah ditendang ke belakang dan tombak pun terlempar. Bahkan, Bai Er sendiri sampai terguling-guling tidak bisa bangun.”

Perasaan Lin Zhennan tergetar mendengarnya. Segera ia bertanya sambil bangkit dari kursi, “Orang itu mendepak ke belakang sehingga Bai Er terjungkal? Bagaimana... bagaimana cara dia melakukannya?”

“Kalau tidak salah seperti ini,” jawab Chen Qi sambil memperagakan gerakan itu. Tangannya memegang sandaran kursi, lalu kedua kakinya susul menyusul mendepak ke belakang.
Dasar ilmu silat Chen Qi memang rendah sehingga gerakannya terlihat kaku dan menggelikan. Dengan menahan tawa, Lin Pingzhi berkata, “Ayah, coba lihat itu…” Namun begitu melihat wajah Lin Zhennan menampilkan rasa tegang, seketika ia langsung berhenti berbicara.
“Kedua depakan ke belakang itu mirip jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang menjadi kebanggaan Perguruan Qingcheng,” ujar Lin Zhennan. “Nak, sebenarnya bagaimana cara dia melontarkan kedua depakan itu?”

Lin Pingzhi menjawab, “Waktu itu kepalaku ditekan ke bawah sehingga tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana dia menendang ke belakang.”

“Benar juga, hanya Pengawal Shi saja yang bisa memberi keterangan,” ujar Lin Zhennan. Segera ia keluar ruangan dan berteriak, “Hei, di mana Pengawal Shi? Sudah sekian lama mengapa belum datang juga?”

Dua orang pengiring segera mendekat dan menjawab, “Kami sudah mencari kemana-mana, tapi Pengawal Shi tidak dapat ditemukan.”
Perasaan Lin Zhennan semakin gelisah. Ia berpikir, “Kalau kedua tendangan itu benar-benar jurus Tendangan Tanpa Bayangan, sudah pasti orang bermarga Yu itu anggota Perguruan Qingcheng. Jika memang demikian, siapa dia sebenarnya?”

Berpikir demikian, ia memutuskan untuk memeriksa secara langsung. Segera ia kembali memberi perintah kepada dua pengiring tadi, “Coba kalian panggil Pengawal Cui dan Pengawal Ji kemari!”
Kedua pengawal yang dimaksud tersebut adalah orang kepercayaan Lin Zhennan. Selain berpengalaman luas, cara bekerja mereka pun rajin dan teliti. Sejak mengetahui Pengawal Zheng tewas dan Pengawal Shi menghilang, mereka langsung bersiap-siap di luar ruangan. Maka begitu mendengar nama mereka disebut oleh Lin Zhennan, keduanya segera masuk ke dalam.
Lin Zhennan berkata, “Kita harus memeriksa ke sana. Pengawal Cui, Pengawal Ji, Ping’er, dan Chen Qi, kalian semua ikut aku!”

Kelima orang itu lantas memacu kuda dengan kencang ke luar kota melalui gerbang utara. Lin Pingzhi berkuda paling depan sebagai penunjuk jalan. Tidak lama kemudian, rombongan itu telah sampai di depan kedai arak kecil yang menjadi tujuan mereka.

Pintu kedai tampak tertutup rapat. Lin Pingzhi segera mengetuk dan berseru, “Kakek Sa! Kakek Sa! Lekas bukakan pintu!” Meskipun sudah diketuk berkali-kali, tidak juga terdengar suara jawaban dari dalam.

Pengawal Cui memandang ke arah Lin Zhennan seolah meminta izin untuk mendobrak. Setelah Lin Zhennan mengangguk, kedua tangan Pengawal Cui langsung menghantam ke depan sehingga palang pintu kedai patah seketika. Daun pintu itu terdorong ke dalam lalu kembali ke depan beberapa kali. Engsel yang telah berkarat mengeluarkan suara keriat-keriut menambah seram suasana.

lanjut ke Bagian 4


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama