Sepasang Naga Lembah Iblis (5)




Dengan bantuan Akauw , diapun kini membuat sebuah rumah dari daun-daun dan kayu ranting jauh di atas pohon sehingga diwaktu malam dia dapat tidup nyenyak tidak khawatir diganggu binantang buas .
                                       *****
Sang waktu berlalu amat cepatnya dan tahu-tahu tiga tahun telah lewat sejak Boan Ki hidup bersama Akauw di dalam hutan di Lembah Iblis . Selama itu , Boan Ki tidak berani beranjak terlalu jauh dari rumahnya diatas pohon karena beberapa kali dia nyaris celaka di serang binatang buas  kalau saja tidak ada Akauw yang membelanya dan menyelamatkannya .

Suatu hari , ketika dia sedang berjalan seorang diri , seekor biruang besar menghadangnya dan menyerangnya .

Boan Ki juga seorang yang kuat dan biasa menghadapi kekerasan , bahkan pernah belajar ilmu silat . Dengan pedang di tangan dia melakukan perlawanan mati-matian . Namun biruang itu menggereng-gereng dan menyerangnya dengan ganas sekali . Bacokan pedangnya dapat di tangkis dan pedangnya di renggut lepas oleh kaki depan biruang yang bercakar itu . Kemudian sebuah tamparan dari kaki depan biruang itu membuatnya terpelanting . Dalam keadaan gawat dia menjadi panic dan berteriak-teriak .

“ Akauw ... toloooongg !” .
Pada saat itu , Akauw muncul . Pemuda remaja berusia

empat belas tahun ini memang sudah tertarik oleh gerengan-
gerengan biruang yang menjadi musuh utama para kera ,

maka dia sudah berlompatan dari dahan ke dahan , berayun-
ayun menuju ke tempat itu . Dia melihat Boan Ki sudah

menggeletak dan biruang itu siap untuk menerkamnya .
“ Aki , diamlah , pura-pura mati !” kata Akauw yang kini
sudah pandai bicara , lalu dia mengeluarkan teriakan
melengking panjang , teriakan tantangan sebangsa kera
seperti teman-temannya .
Biruang itu melihat lawannya rebah tak berkutik , menjadi
sangsi , apalagi mendengar tantangan kera , dia membalik
dengan marah . Pada saat itu , Akauw sudah melompat dari
atas dan membacokkan goloknya dengan sekuat tenaga kea
rah kepala biruang itu .
\
Biruang raksasa itu menangkis dengan sapokan lengannya , akan tetapi karena bacokan itu kuat sekali , lengannya menjadi tergores dan kulitnya robek . BIruang itu menggereng marah dan kesakitan , lalu menerkam kedepan . Namun dengan tangkas dan gesit sekali Akauw sudah mengelak dengan lompatan ke kiri , kemudian goloknya membacok lagi , sekali ini melukai kaki belakang biruang itu .

Setelah berulang kali menerima bacokan yang membuat kulitnya yang tebal tergores luka , biruang itu menjadi ketakutan dan melarikan  diri .

Boan Ki bangkit berdiri dan memandang kagum . Anak
berusia empat belas tahun yang tubuhnya sudah hamper
sama tingginya dengan dia itu , kembali telah menyelamatkan
nyawanya . Padahal anak itu sama sekali tidak pandai bersilat
. Hanya gerakannya itu demikian ringan dan gesit seperti
monyet , namun monyet yang banyak akalnya .

“ Aki , lain kali jangan pergi sendiri jauh-jauh , bisa
berbahaya “ , kata Akauw yang biarpun masih agak kaku , namun setelah selama tiga tahun setiap hari belajar bercakap- cakap dengan Boan Ki , dia sudah cukup pandai mengutarakan perasaan hati dan pikirannya . “ Akauw , aku bosan berdiam di atas pohon atau di bawahnya setiap hari . Sudah tiga tahun aku berada di sini dan tidak pernah pergi lebih dari satu li jauhnya dari rumah kita . Aku bosan , Akauw “

“ Kalau begitu , mari ku ajak kau jalan-jalan , Aki . Aku
mempunyai sebuah tempat yang amat indah , guha-guha
yang penuh dengan benda bercahaya “ .

Wajah Boan Ki menjadi berseri . “ Benarkah , Akauw ? Mari kita pergi bermain-main ke sana !” . “ Perjalanan itu cukup jauh menyusup lembah , kita harus berangkat pagi-pagi benar agar dapat sampai di sana dan dapat kembali lagi “ .

Demikianlah , pada keesokan harinya , sebelum terang tanah , baru saja sinar matahari menerangi angkasa , mereka sudah berangkat menuju kea rah mata hari , ke timur . Boan Ki merasa gembira sekali . Karena dia memang sudah bosan setengah mati setiap hari harus tinggal saja di situ . Bahkan
berburu binatang untuk dimakanpun dilakukan oleh Akauw dan dia tidak diperbolehkan meninggalkan tempat itu jauh- jauh . Kini dia melangkah lebar di samping Akauw , seorang

tua berusia empat puluh delapan tahun dan seorang pemuda remaja berusia empat belas tahun .
Beberapa ekor kera hendak ikut , akan tetapi Akauw mengusir mereka . Dahulu , sebelum bertemu dengan Boan Ki , dalam perantauannya menjelajahi lembah , dia menemukan tempat itu dan di rahasiakannya . Dia tidak ingin tempat itu dijadikan tempat tinggal para kera dan menjadi kotor .

Setelah matahari naik tinggi , tibalah mereka di lereng yang penuh batu-batu . “ Itu di sana tempatnya !” Akauw menuding . Boan Ki memandang gembira . Perjalanan tadi saja sudah cukup mendebarkan hati . Mereka bertemu dengan binatang- binatang buas . Kalau saja tidak bersama Akauw , entah bagaimana jadinya . Tak mungkin dia dapat melewati binatang-binatang buas seperti biruang , harimau dan ular- ular besar itu . Akauw membawanya naik ke pohon dan melompat dari dahan ke dahan , bergantungan pada akar gantung dan melewati binatang-binatang itu dengan selamat .

Kini mereka tiba di bagian yang penuh batu-batuan , dan dari
jauh dia melihat bahwa yang di tunjuk Akauw itu adalah
sederetan guha-guha besar .

“ Mari kita ke sana !” kata Akauw dan mereka berlari-lari menuju ke tempat itu . Ada guha yang penuh dengan arca- arca , sebagian dari arca itu belum sempurna benar , belum selesai dibuatnya . Dan Akauw menarik tangannya di ajak ke sebuah guha yang kecil di sudut .

“ Disini tempat batu-batu berkilauan itu !” katanya gembira
melihat kawannya gembira .
Dan begitu memasuki guha itu Boan Ki terbelalak dan cepat
lari memasuki guha , meraba dinding guha yang berkilauan .
“ Emas ... ! Emass ... ! Kita kaya raya .... !!! Ahh , banyak
emas di sini , Akauw !” .
“ Emas ? Kaya Raya ? Apa itu ?” Akauw bingung karena
belum pernah dia mendengar sebutan emas dan kaya raya .

Boan Ki menjadi diam . Bodoh dia kalau sampai
memberitahu Akauw . Mungkin saja pada suatu hari Akauw
akan bertemu orang lain dan kalau dia bicara kepada orang itu
tentang guha ini , dan tentang emas ... ah , dia harus cerdik .
“ Tidak apa-apa , Akauw . Ini adalah batu biasa , hanya
berkilauan . Dan kita gembira . Aku gembira karena di sini
indah sekali . Aku ingin tinggal di sini , Akauw “ .
“ Tidak , Aki . Kita harus pulang ke tempat kita . Di sini kita
akan kelaparan , tidak ada buah-buahan , juga jarang ada
binatang buruan . mari kita pulang sebelum malam tiba , Aki “
.
“ Tidak , aku tinggal di sini .....!” .
Kemudian dia melihat betapa Akauw mengerutkan alisnya .
Ah , dia tidak boleh membuat Akauw curiga , maka Boan Ki
lalu tertawa . “ Ah , baiklah Akauw , mari kita pulang “ .
Akauw nampak gembira kembali setelah Boan Kim au di
ajak pulang . Malam itu , di atas pohon , Boan Ki gelisah tak
dapat tidur . Dia tahu bahwa Akauw tadinya putera manusia
biasa , bahkan dari kalung yang di pakainya , yang ada huruf
Cian , agaknya orang tuanya bermarga Cian . Kalau sampai
ada orang lain yang tahu bahwa tak jauh dari situ , hanya
perjalanan setengah hari , terdapat guha penuh dengan emas
, tentu akan ada saingan baginya . Tidak boleh , dia harus
mendapatkan semua emas itu , lalu berusaha keluar dari
lembah ini dan menjadi seorang yang kaya raya . Akan tetapi
Akauw menjadi penghalang baginya . Selain mungkin Akauw
akan menghalangi dia mengambil emas , juga Akauw perlu di
singkirkan , karena dapat memberitahu orang lain .
Benda memiliki daya pengaruh yang amat kuat bagi
manusia . Karena dari benda-benda ini manusia memperoleh
berbagai kesenangan , maka kalau tadinya manusia
mempergunakan benda bagi keperluan hidupnya , kemudian
keadaannya malah berbalik . Benda menguasai batin manusia

19
saling bunuh karena benda , bahkan di antara saudara sendiri
timbul pertengkaran dan permusuhan karena saling
memperebutkan benda . Namanya saja benda mati , akan
tetapi daya pengaruhnya sungguh besar , melebihi pengaruh
daya lain .
Demikian pula dengan Boan Ki . Tadinya dia menganggap
Akauw sebagai teman hidupnya di tempat terpencil itu , selain
sebagai penolongnya dalam segala hal . Akan tetapi begitu dia
melihat emas , semua itu terlupa . Daya pengaruh emas yang
berkilauan itu mempengaruhi dan mencengkramnya , dan
untuk mendapatkan emas itu , dia bersedia melakukan apa
saja , yang sejahat-jahatnya sekalipun .
Mendapatkan emas itu berarti kesenangan , kemuliaan ,
karena kaya raya dan untuk mendapatkan itu , jangankan
hanya Akauw yang bukan apa-apanya , bahkan andaikata
Akauw itu saudaranya sendiri sekalipun , mungkin akan di
dikorbankannya juga .


Kalau kita tergesa mengatakan bahwa Boan Ki seorang yang kejam , tidak berperikemanusiaan , maka sebaiknya kita menengok kepada diri sendiri , apakah kita tidak pernah bertengkar karena uang dengan sahabat baik kita , saudara kita , keluarga kita , bahkan isteri atau anak kita sendiri ?

Kalau sudah begitu , baru kita tahu betapa hebat dan kuat
daya pengaruh benda itu mencengkram batin kita .
Pada keesokan harinya Boan Ki bangun kesiangan karena
semalam dia hamper tidak tidur . Ketika dia membuka
matanya , Akauw tidak berada di sampingnya .

Dia tahu bahwa Akauw pagi-pagi sekali tentu sudah bangun dan kini tentu sedang mencari buah atau berburu kelinci , karena dia sudah melihat api unggun di bawah pohon . Dia lalu merayap turun dan membuat minuman air dengan mencampurkan semacam daun pengganti the yang cukup sedap di dalam air yang sudah mendidih itu . Selama ini dia sudah membuat semacam periuk dari tanah untuk memasak air dan membuat masakan dari daging buruan dan sayuran yang dapat di temukan di hutan itu .

Tak lama kemudian , benar saja Akauw datang membawa buah-buahan dan seekor kelinci yang dapat di tangkap dengan melemparnya dengan batu . “ Aki , aku berhasil menangkap seekor kelinci gemuk !” katanya gembira ketika melihat Aki sedang membuat minuman .

” Bagus , Akauw , “ kata Aki sambil tertawa . Akauw yang
tidak mencurigai sesuatu segera mengguliti kelinci seperti
yang di ajarkan kepadanya oleh Boan Ki . Dengan sangat asyik
die mengerjakan ini , menggunakan goloknya , tidak tahu
bahwa Boan Ki mendekatinya dari belakang . Tiba-tiba saja
Boan Ki mengerahkan tenaganya dan menghantam tengkuk
anak itu dari belakang .

“ Dukk !” tanpa dapat mengeluarkan suara Akauw terpelanting dan tak sadarkan diri lagi . Hantaman itu keras sekali , dilakukan dengan tangan terbuka miring . Kalau tengkuk orang lain yang dihantam Boan Ki seperti itu , tentu tulangnya akan patah . Akan tetapi , hantaman itu tidak mematahkan tulang tengkuknya , akan tetapi guncangan hebat pada kepalanya membuat ia roboh pingsan . Boan Ki mengambil pedangnya dan hendak mengayun pedang itu memenggal batang leher Akauw . Akan tetapi perbuatan ini tidak jadi dilakukan . Akan mengotori tempat ini dan merepotkan harus mengurus mayatnya , pikirnya . Lebih baik dia dikirim ke dalam jurang menyusul mayat-mayat temannya dulu .
Maka , diapun tenang-tenang saja mengikat
kedua tangan Akauw ke belakang tubuhnya , lalu melanjutkan
mengguliti kelinci dengan golok milik Akauw .

Boan Ki adalah bekas penjahat besar yang entah sudah
berapa puluh kali membunuh manusia . maka apa yang
dilakukannya terhadap Akauw merupakan perbuatan yang baginya kecil artinya .
Tak lama kemudian Akauw mengeluarkan suara rintihan .

Kepalanya bagian belakang terasa nyeri sekali , mengentak-e ntak rasanya dan pening . Ketika dia membuka matanya , dia melihat Boan Ki sedang memandangnya dengan senyum aneh . Akauw berusaha untuk bangkit akan tetapi terguling kembali . Dia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya yang di telikung ke belakang dan di ikat ! .

“ Aki .... ! Kenapa tanganku ini ? Lepaskan ...! Katanya .
Boan Ki tersenyum menyerengai . “ Akauw , engkau harus
pergi dari sini . Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu “ .
“ Pergi ? Kemana ? “ Tanya Akauw heran dan kini , setelah
tahu kedua tangannya terikat , dia mampu bangkit dan berdiri
.
“ Ke neraka !” kata pula Boan Ki sambil tertawa .
“ Neraka ? Dimana itu ?”
“ Ha-ha-ha , mari ku tunjukkan engkau dimana neraka itu .
Hayo jalan ! “ . Dengan golok yang berlumuran darah kelinci di
tangan , Boan Ki menodong dan mendorong Akauw untuk
berjalan . Akauw tidak dapat membantah karena golok itu
menusuk punggungnya . Terpaksa dia melangkah maju
dengan penuh keheranan . Dia masih belum mengerti apa
yang di maukan oleh kawannya itu .
“ Hayo , terus maju , jangan menengok ke belakang !”
hardik Boan Ki .
Akauw maju terus sampai di tepi jurang yang amat dalam
itu . Dia berhenti .
“ Hayo terus jalan , di bawah sana itulah neraka . Engkau
harus pergi ke sana !” .

22
Lebih banyak nalurinya daripada pikirannya yang
memberitahu Akauw apa yang sesungguhnya terjadi . Aki
hendak membunuhnya ! Dia membalik dan terdengar
gerengan di kerongkongannya .
“ Engkau ... engkau jahat !” katanya berkali-kali dan kini dia
meronta-ronta dan kedua kakinya menendang-nendang kea
rah Boan Ki .
Boan Ki tidak tahu bahwa kalau tadinya Akauw menurut
saja , bukan karena Akauw takut , melainkan karena dia tidak
tahu apa yang dikehendaki Boan Ki , bahkan belum
menyangka jelek . Baru sekarang dia tahu bahwa Boan Ki
hendak membunuhnya , maka dia melawan .


Hal ini tentu dilakukan sejak tadi kalau dia sudahmengetahuinya . Dia mengeluarkan teriakna-teriakan seperti kera marah ketika menendang – nendang . Boan Ki terkejut dan cepat menggerakkan goloknya menangkis tendangan itu . “ Craackk !” kaki kanan Akauw terkena golok dan terluka pahanya berdarah-darah dan diapun roboh terpelanting .

Namun dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan sigap . Kalau
hanya luka kecil itu saja , tidak mungkin dapat membuat
Akauw menyerah .
Kembali golok menyambar .
“ Trangg ...!” golok itu di tangkis sebatang pedang di
tangan seseorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh
puluh tahunan . Namun , ketika pedang menangkis , golok
terpental dan Boan Ki merasa tangannya tergetar .
“ Eh , siapa engkau ? Jangan mencampuri urusanku !”
bentak Boan Ki marah .
Sementara itu , seorang anak laki-laki berusia kurang lebih
lima belas tahun , cepat melepaskan ikatan tangan Akauw
yang terluka paha kirinya .

Kakek itu berkata , “ Sobat , engkau hendak membunuh anak itu , bagaimana kami tidak akan mencampuri ?” . “ Kalau begitu , aku akan membunuhmu lebih dulu !” Dia menyabitkan golok yang berlumuran darah kelinci itu kepada si kakek yang cepat menangkis dengan pedangnya . Kemudian
Boan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kakek itu dengan ganasnya . Kakek itu berpakaian seperti sastrawan , dan walaupun gerakan pedangnya amat indah , namun dia sudah terlalu tua
, gerakannya sudah amat lambat sehingga Boan Ki yang keras dan kasar itu menyerang bertubi-tubi , kakek itu mulai terdesak .

Sementara Akauw yang sudah bebas tangannya , menjadi
marah sekali kepada Boan Ki . Dia mengeluarkan gerengan
seperti kera kalau marah , mendesisi – desis danmelihat
goloknya terlempar ketika di sabitkan Boan Kid an di tangkis
kakek itu , dia lalu melompat , menyambar goloknya dan
melompat ke atas pohon dengan kecepatan seekor kera .
Kemudian dari atas pohon itu dia terjun dengan cepat
menukik ke bawah , menyerang Boan Ki yang sedang
mendesak kakek itu .
Ketika mendengar gerengan yang menakutkan dari atas ,
Boan Ki mengangkat pedangnya menangkis . Golok itu dengan
amat kerasnya bertemu pedang , akibatnya pedang dan golok
menjadi patah-patah dan Akauw sudah menerkam kepala
Boan Ki .
Boan Ki terkejut sekali ketika tahu-tahu tubuh Akauw sudah
berada di atas punggungnya dan dia menronta-ronta , akan
tetapi tiba-tiba dia merasa ada gigitan dilehernya dan
kepalanya di putar sekuatnya oleh Akauw .
Terdengar bunyi “ kreek-krekk !” tulang leher itu patah .
Setelah Akauw melepaskannya , tubuh Boan Ki terpelanting
dengan kepala miring dan leher terobek gigi Akauw .

Akauw berdiri di atas dada Boan Kid an menepuk-nepuk dadanya sambil menggereng-gereng seperti lagak kera yang menang dalam pertandingan . Kakek dan pemuda remaja itu memandang dengan
bengong , juga ngeri . Setelah melampiaskan kemarahannya seperti seekor kera , Akauw melihat dua orang itu dan baru ia teringat bahwa dia adalah seorang manusia , bukan seekor kera .

Maka dia lalu turun dari dada mayat Boan Kid an menghampiri kakek itu . “ Kalian telah menolongku . Kalian orang-orang baik , tidak jahat seperti Aki “ . Dia menuding kea rah mayat itu .
“ Siapakah dia ? Dan mengapa dia hendak membunuhmu dan siapakah engkau ?” kakek itu bertanya dengan suaranya yang lembut .

“ Dia Aki dan aku Akauw . Dia orang jahat , dulu
kuselamatkan sekarang dia malah hendak membunuhku .
Jahat .... Jahat ..... seperti ular !” Akauw menuding-nuding
mayat itu

Kakek itu menghampiri Akauw . “ Mari kita kuburkan dulu
Aki itu , baru kita bicara . Yang Cien , mari bantu aku
menggali lubang “ .
“ Nanti dulu , apa yang akan kau lakukan ? Menggali
lubang ? Untuk apa ? “ Tanya Akauw heran , dan penuh curiga
.
Setelah apa yang dia alami dari Aki , dia menjadi curiga
pada manusia .
“ Dia telah mati , Akauw . Kita harus mengubur mayatnya “
.
“ Mengubur ? Apa itu , dana bagaimana ?”
“ Mengubur mayar adalah menanam mayat itu dibawah tanah , memasukkan kedalam galian dan menimbuni dengan tanah agar tidak membusuk dan tidak di makan binatang buas....

Brrsambung Ke Bagian 6

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama