Sepasang Naga Lembah Iblis (4)



Yang menarik perhatian Kercak adalah senjata-senjata itu . Dia berganti-ganti memungut pedang , tombak , ruyung , akan tetapi semua di buangnya kembali dan dia merasa bahwa semua barang itu tidak ada yang lebih baik daripada golok yang dipegangnya . Lalu dia meraba-raba pakaian mereka .

Ketika dia meraba seorang yang bertubuh tinggi kurus , orang itu bergerak sehingga dia terkejut , melompat jauh ke belakang dan siap dengan golok di tangan . Orang itu ternyata belum mati , dan di sangka mati oleh para lawannya . Kini dia bangkit duduk dan melihat Kercak , bocah berumur sepuluh tahun yang telanjang bulat dan memegang golok , rambutnya panjang terurai di punggung ,
orang itu terbelalak dan menggosok kedua mata dengan tangan untuk mengusirmimpi buruk itu .

Akan tetapi , bocah itu masih berada di situ memandang kepadanya dengan aneh , berdirinya agak membungkuk seperti kera . “ Sobat kecil , kau tolonglah aku ...” Orang itu menjulurkan kedua tangannya , lalu terkulai pingsan . Dia adalah kepala perampok yang bernama Boan Ki . Ketika Boan Ki sadar dari pingsannya , dia mendapatkan dirinya sudah berada di bawah pohon besar tak jauh dari
tempat terbunuhnya semua anak buahnya .

Dia membuka mata dan bangkit duduk , melihat bahwa
luka di pundaknya sudah di obati dengan semacam getah
yang membuat luka itu terasa dingin . Baru saja dia membuka
mata dan bangkit , ada orang mengguyur kepalanya dengan
air .

Dia terkejut dan melihat bahwa yang melakukannya adalah bocah yang di lihatnya tadi . Ternyata anak itu membawa air dalam daun yang amat lebar dan air itu di guyurkan kepadanya . Kepala dan mukanya basah kutup , akan tetapi dia berterima kasih karena siraman air itu membuat dia merasa
sejuk dan nyaman . “ Anak yang baik , engkau siapakah ?” Boan Ki bertanya sambil duduk bersandar batang pohon .

Mendengar suara ini . Kercak nampak bingung dan dia
mengeluarkan suara kera yang cecowetan , sambil tangannya
bergerak-gerak ke kanan kiri .

Kini Boan Ki yang menjadi bingung . Di ulanginya pertanyaannya namun bocah itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti kera dan berloncat-loncatan . Dia menghelanapas panjang . Selama hidupnya mendengarpun belum dia akan seorang anak manusia yang bersikap seperti kera , telanjang bulat namun telah menyelamatan nyawanya . Dia lalu menuding ke arah dadanya sendiri dan berkata
berulang-ulang , “ Boan Ki , Boan Ki , Boan Ki .... “ Maksudnya hendak memperkenalkan namanya kepada anak itu . Kercak mendengarkan penuh perhatian . Karena suara itu berulang-ulang , dia lalu berusaha menirukan , “ Aki ... Aki ....
!” .
Boan Ki tertawa bergelak mendengar namanya di sebut Aki , karena begitulah orang tuanya dulu menyebutnya . Dan melihat Boan Ki tertawa , Kercak juga ikut-ikutan tertawa , walaupun suara tawanya kak-kak-kek-kek seperti suara monyet .

Setelah agak lancer mengucapkan kata Aki , Boan Ki lalu
menuding kea rah dada Kercak dan berkata , “ Kauw-Cu ,
Kauw Cu .... ! “ berulang-ulang . Kembali Kercak menirukan ,
akan tetapi yang terdengar adalah “ Akauw , Akauw , Akauw
... “ .
“ Kauw Cu “ menunjukkan bahwa anak itu adalah seekor kera , dan kembali Boan Ki tertawa . Agaknya inilah pelajaran pertama bagi Kercak atau Akauw , yaitu bahwa tawa berarti baik dan benar .
Demikianlah , setelah kesehatannya pulih kembali , Boan Ki yang tidak berani keluar dari Lembah itu mulai hidup dengan Akauw yang mencarikan buah-buahan untuknya . Boan Ki mulai mengajarkan beberapa patah kata , dan mengajak Akauw untuk melemparkan semua mayat ke dalam jurang
setelah melucuti pakaian mereka . Juga dia mengajarkan cara berpakaian kepada Akauw !

Karena semua pakaian itu semua kebesaran , maka Akauw memakai pakaian menjadi kedodoran , akan tetapi setelah mengenakan pakaian , dia nampak lebih sebagai manusia daripada sebagai kera .
Agaknya , naluri dalam diri Kercak atau Akauw memberitahu kepadanya melalui perasaannya bahwa dia telah bertemu dengan bangsanya , maka dia pun menurut saja segala yang di ajarkan Boan Ki kepadanya .

Boan Ki mengajarkan membuat api , menangkap binatang
hutan dan memanggang dagingnya dan segala macam cara
hidup manusia biasa , walau pun cara itu amat sederhana
karena keadaan mereka hidup di lembah yang penuh hutan
liar itu .

Boan Ki adalah seorang kepala perampok berusia empat puluh lima tahun yang biasa hidup keras dan tidak mengenal perikemanusiaan . Entah sudah berapa banyak orang di bunuhnya , perempuan di perkosanya . Akan tetapi sekarang dia bersikap baik , seperti seorang guru yang tekun , sabar bagi Akauw . Hal ini bukan saja karena dia merasa telah diselamatkan nyawanya oleh anak itu , melainkan juga dia membutuhkan seorang kawan di tempat yang menyeramkan itu .

Dengan bantuan Akauw , diapun kini membuat sebuah
rumah dari daun-daun dan kayu ranting jauh di atas pohon
sehingga diwaktu malam dia dapat tidup nyenyak tidak
khawatir diganggu binantang buas.   -

 Bersambung ke Bagian 5

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama