Sepasang Naga Lembah Iblis ( 2)



Mereka tiba di bagian yang banyak pohon-pohon besarnya . Dan wanita yang sudah kelelahan itu akhirnya tersandung akar pohon dan terjerembab jatuh , dan terdengarlah puteranya menangis menjerit-jerit . “ Ha-ha-ha , engkau tak dapat lari lagi ........ ! “ Si muka hitam tertawa bergelak dan menubruk kea rah wanita yang masih rebah miring itu .


Akan tetapi tiba-tiba semua pohon sekeliling tempat itu  bergoyang-goyang dan terdengar suara cecowetan riuh rendah , lalu banyak sekali kera yang besar berlompatan dari atas pohon , ada yang langsung menubruk kea rah laki-laki bermuka hitam itu . Banyak sekali kera itu , puluhan banyaknya dan tinggi mereka kalau berdiri ada yang mencapai satu meter ! .

Laki-laki muka hitam itu terkejut sekali karena selagi dia membungkuk , sebelum tangannya dapat menyentuh tubuh wanita itu , punggungnya di timpa beberapa ekor kera yang langsung menggigit tengkuknya . Dia berteriak dan menggunakan kedua tangan untuk memukul , kemudian dia mencabut goloknya dan mengamuk .

Akan tetapi kera-kera itu gesit sekali dan pandai mengelak . Akhirnya , biarpun goloknya mampu merobohkan empat ekor kera , ada kera besar yang menggigit lengan kanannya , ada pula yang memeluk dari belakang menggigit tengkuk , ada yang memegangi kaki dan menggigit kedua kakinya .
Tidak kurang dari sepuluh ekor kera mengeroyok dan menggigitnya dan akhirnya si muka hitam itu hanya mampu berteriak melolong-lolong . Akan tetapi teriakannya makin melemah dan ketika ada kera menggigit kerongkongannya , diapun berkelojotan dan tak lama kemudian mati dalam keadaan
tubuh penuh luka terkoyak .

Sementara itu , setiap ekor kera yang menjamah wanita itu , menarik kembali tangannya . Kiranya wanita itu telah mati . Ketika tadi jatuh terjerembab , kepalanya terbentur batu demikian kerasnya sehingga kepala itu retak dan wanita itu tewas tak lama kemudian .

Seekor kera betina , yang buah dadanya menggembung karena baru dua hari yang lalu ia melahirkan anak yang mati katika lahir , ketika melihat bayi yang menangis menjerit-jerit membuat kera yang lain ketakutan , segera menyambar bayi itu dan secara naluriah ia mendekap bayi itu , membiarkan
mulut bayi bertemu putting susunya yang besar .

Seketika bayi itu berhenti tangisnya dan dia sudah menyusu dengan enaknya lalu tertidur dalam pondongan kera betina , jauh tinggi di atas pohon besar . Setiap kali ada monyet lain mendekat , betina yang besar itu menyerengai , memperlihatkan gigi dengan sikap mengancam dan sejak saat
itu ia menjadi ibu dari bayi itu . Ia telah memperoleh pengganti anaknya yang mati ketika lahir karena beberapa hari sebelumnya ia terjatuh katika dahan yang diinjaknya patah .

Mayat si muka hitam dan mayat ibu muda itu tak lama kemudian juga menjadi mangsa-mangsa hewan-hewan hutan yang liar sehingga beberapa hari kemudian yang tinggal hanyalah tulang belulangnya saja .

Kematian datang begitu tiba-tiba , kepada siapa saya yang sudah tiba saatnya . Akan tetapi bocah itu , secara aneh sekali dan tidak wajar telah terhindar dari kematian . Siapakah yang mengatur semua ini ? Yang mesti mati , matilah . Yang mesti hidup , dengan cara aneh dapat hidup . Sungguh besar sekali
kekuasaan yang mengatur segala sesuatu di jagat raya ini . Biarpun dalam pandangan manusia peristiwa yang terjadi di Lembah Iblis itu nampak aneh , namun sesungguhnya hanya merupakan peristiwa kecil tak berarti apa bila di bandingkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi setiap saat di alam semesta ini . Kekuasaan yang mengatur semua itu , dari peristiwa terkecil sampai peristiwa terbesar , adalah tunggal .

Kekuasaan Tuhan menyusup dan mengatur dimana saja , tak terkecuali di manapun juga mendahului yang terdahulu dan mengakhiri yang terakhir . Sejak anak bayi berusia setahun itu di sambar dari dekapan ibu kandungnya yang tewas oleh sepasang lengan panjang seekor kera betina , maka mulailah riwayat hidup seorang anak manusia yang luar biasa . Keadaan dan cara kehidupan monyet yang serba keras dan sukar , menggemblengnya menjadi seorang mahluk setengah manusia setengah kera .


Jalannya , caranya meloncat , caranya menyerengai , berkelahi , makan apa saja yang biasa dimakan orang-orang hutan itu , persis kera besar . Akan tetapi ada suatu kelebihan padanya yang tidak ada pada kera itu , yaitu akal budi . Dalam hal pertumbuhan jasmani , induk kera itu seringkali merasa tak sabar karena anaknya itu tak kunjung besar dan tidak kunjung kuat .

Masih saja lemah dan memerlukan penjagaannya selalu . Kalau tidak , tentu anaknya itu sudah terjatuh dari atas pohon atau kena gigit kera-kera temannya karena gigi anaknya tidak tumbuh kuat runcing seperti kera- kera lain . Namun , setelah anak itu berusia lima enam tahun , ternyata dia dapat mengalahkan semua teman bermainnya . Dia pandai sekali bagi ukuran kera , naluri dan kepekaannya sama dengan kera , akan tetapi akal budinya seperti manusia . Dia dapat mempergunakan batu , kayu dan benda apa saja yang keras untuk senjata , sedangkan kera- kera lain tidak mampu . Dia juga bukan hanya pandai berayun-ayun dan berlompatan seperti kera , walaupun kalahgesit , akan tetapi dapat pula berlari secepat kijang , hal yang tidak dapat dilakukan kera lain .

Pada suatu hari , selagi anak itu bersama kera-kera lainnya bermain dan bergelut di atas pohon , dibawah sana terdapat sebuah telaga kecil , tiba-tiba anak itu terpeleset dan terjatuh ke dalam air yang dalam . Semua kera kebingungan , juga induk kera menjerit-jerit . Jatuh ke dalam air itu berarti mati ,
kematian yang menyedihkan .

Akan tetapi , biarpun amat ketakutan , anak itu menggerakkan kaki tangannya , meronta dari pelukan air dan ........ tubuhnya tidak jadi tenggelam , melainkan mengapung ke permukaan airnya . Hanya akal budinya sebagai manusia yang memberitahu kepadanya bahwa dengan menggerakkan kaki tangannya , dia tidak tenggelam dan demikianlah , dia malah bermain-main di air itu dan merasa tubuhnya segar dan nyaman sekali . Bersambung ke bagian 3)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama