"Kematian Sang Pendekar" (7)

WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Episode :
"Kematian Sang Pendekar"  (7)

Melihat hal ini Ratu Randang, Kunti Ambiri beserta Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala langsung melepaskan Pukulan jarak jauh masing­masing untuk menghadang datangnya Pukulan Lakarontang! Kunti Ambiri terlihat melepaskan Pukulan sakti berwarna hitam yang diberikan oleh Ratu Ular Kepadanya yakni Pukulan Kobra Karang Penghancur Tulang.





Sementara Ratu Randang melepaskan Pukulan berwarna Kuning yang dinamakan Jagat Semu Pelepas Nyawa. tak ketinggalan ketinggalan Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala menggerakkan kedua tangannya yang berukuran raksasa guna melepas sebuah pukulan yang bernama Dewa Kembar Membalik Gunung! Satu sinar berwarna hijau kebiruan melesat disertai suara guruh laksana gunung meledak!

Ketiga larik pukulan ini dengan deras meluncur kearah pukulan­pukulan Bara Moksa Geni yang dilancarkan Lakarontang! Namun ketiga orang ini terhenyak kala tiba­tiba berkelebat satu bayangan yang langsung menggulung ketiga sinar pukulan menjadi satu! “Jaka Pesolek…! Kau sudah gila! Apayang kau Lakukan..?” jerit Kunti Ambiri melihat tingkah Jaka Pesolek yang menggulung tiga sinar pukulan!

Semua tidak mengerti apa yang dilakukan gadis yang bisa laki dan bisa perempuan ini, namun mereka semua terperangah kala gabungan pukulan yang digulung oleh Sang Gadis kembali dilepaskan dalam bentuk yang maha dahsyat! Satu sinar berukuran raksasa dengan warna gabungan hitam kuning dan biru kehijauan melabrak serangan sinar­sinar Bara Moksa Geni yang dilancarkan Lakarontang dan terus menghantam tubuh Sangkala Darupadha!

Satu Dentuman yang amat besar kini terdengar membahana melebihi suara­suara dentuman sebelumnya! Jaka Pesolek terjengkang keras kearahKunti Ambiri! Sepasang tangan sang gadis terlihat bergetar keras! “Kau benar­benar gila Jaka Pesolek…!” jengkel Kunti Ambiri melihat kenekatan Sang Gadis.

Sementara gadis dalam pelukannyahanya tertawa ringan. Apa yang dilakukan Sang Gadis memang benar­benar mengagetkan sekaligus membuat orang terkagum­kagum! kepandaian menangkap sinar pukulan dan menggulungnya menjadi satu memang didunia ini tidak ada yang bisa melakukan selain Jaka Pesolek Penangkap Petir! dan yang lebih mencengangkan lagi adalah kenyataan bahwa gadis ini tidak memiliki tenaga dalam maupun kepandaian lain selain gerakannya yang cepat dan kemampuannya menangkap petir! Ratu Randang berjalan mendekati Jaka Pesolek dan berucap.

“Heran baru hari ini kau bertindak benar… aku jadi salut padamu…” ucap Ratu Randang sembari menepuk kening sang gadis. Namun baru saja Ratu Randang hendak menyambung perkataannya tiba­tiba mereka dikejutkan oleh teriakan Raja Mataram saat dari dalam tanah tiba­tiba menyembul sepasang tangan yang langsung menarik tubuh Sang Raja Kedalam tanah! Raja Mataram terdengar membentak keras dan berusaha melepaskan cengkraman yang membelit kakinya namun usahanya sia­sia saat satu sentakan membuat tubuhnya amblas kedalam tanah!

Kumara Gandamayana yang berada paling dekat dengan Raja Mataram tidak bisa melakukan apa­apa karena sekujur tubuhnya terasa lemas akibat kehilangan banyak darah karena luka di punggungnya. Sang kakek hanya bisa mengerang Kala melihat Raja Mataram hilang amblas ke dalam Tanah! sementara itu apa yang terjadi dibawah sana semua bisa dilihat dengan jelas oleh Wiro.

Sang Pendekar benar­benar khawatir akan keselamatan Raja Mataram sekaligus keselamatan para sahabatnya dibawah sana. Sang Pendekar pun kemudian memutuskan untuk melompat terjun kebawah! Saat Sang Pendekar sudah membulatkan tekadnya, tiba­tiba didengarnya satu suara berseru diatas kepalanya. “Yang Mulia Pimpinan…! kami datang membantumu…!” Wiro memandang kearah atas lalu berseru girang.

“Kelelawar Hantu… kau datang disaat yang tepat…! aku memang membutuhkanmu!” ucap Sang Pendekar kala melihat diatas kepalanya sesosok kelawar raksasa turun beserta ratusan Makhluk berjubah dan bermuka hitam dan putih. Sang pendekar juga melihat empat orang yang tak dikenalnya datang bersama makhluk yang dikenalnya sebagai Arwah Ketua melayang bersama dengan makhluk­makhluk yang dikenal Wiro Sebagai para Penjaga Istana Atap Langit. karena tidak memiliki waktu lagi, Sang Pendekar berkata selekasnya.

“Kelelawar Hantu sahabatku… aku minta tolong padamu dan para pengawal untuk membantu empat orang dibawah sana! Aku masih harus menyelamatkan Raja Mataram, karenanya aku benar­benar membutuhkan bantuanmu!” ucap Sang Pendekar sembari melompat dari Punggung Jin tunggangannya! “Terima kasih atas tumpangannya…!

Dan terima kasih juga kau sudah mengobatiku…!”Seru sang pendekar pada jin tunggangannya sembari melesat ke bawah. Sementara itu Ratu Randang, Kunti Ambiri dan Jaka Pesolek yang sedang sibuk bertarung berteriak ngeri kala melihat Wiro melompat dari punggung Jin putih muka rata!

“Anak itu sudah menjadi gila…! Lihat dia melompat ke bawah…!” teriak Ratu Randang. Kunti Ambiri dan Jaka Pesolek bergerak cepat hendak menangkap tubuh Sang Pendekar yang sesaat lagi akan membentur tanah, namun gerakankeduanya terhenti kala melihat Sang Pendekar menyengir sembari mempermainkan mata!” Wiro…!” teriak keduanya tak tertahan kala melihat tubuh Wiro meluncur deraske dalam tanah dan menghilang!

Keduanya terdiam sesaat sampai akhirnya Kunti Ambiri berteriak kesal sembari membanting­bantingkan kaki! “Sialan…! Kita berdua tertipu…! Anak setan itu menguasai ilmu menyusup kedalam tanah..! Dasar pemuda gila…!” gemas Kunti Ambiri sambil memaki­maki sementara Jaka Pesolek yang semula juga terkejut juga akhirnya turut membanting­bantingkan kaki sebal dan keki! sementara itu didalam tanah Sang Pendekar melihat seorang yang dikenalnya sebagai Hantu Bara Kaliatus tampak sedang berusaha mencekik Sri Maharaja Mataram sementara seorang lagi yakni bocah yang dikenalnya sebagai Dirga Purana tampak sedang bertarung hebat dengan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi Milik Sang Raja! Kemarahan Sang Pendekar langsung menggelegak melihat dua orang yang telah membunuh Sakuntaladewi dan Ni Gatri ini.

“Berikan nyawa kalian berdua…! Teriak Sang Pendekar seraya melepaskan pukulan Tangan Dewa Menghantam Api kearah Dirga Purana sementara dengan kecepatan luar biasa Sang Pendekar mengeluarkan jurus Dibalik Gunung Memukul Halilintar untuk menghantam Hantu Bara kaliatus yang sedang mencekik Raja Mataram. Terdengar teriakan dahsyat dari Hantu Bara Kaliatus kala pukulan yang memang diciptakan untuk memukul musuh yang bersembunyi ini dengan telak menghantam pelipis Hantu Bara Kaliatus yang kontan membuat cekikannya pada leher Raja Mataram terlepas. Sang Pendekar sebenarnya ingin kembali mengeluarkan pukulan jarak jauh guna membinasakan kedua orang yang membunuh Sakuntaladewi dan Ni Gatri ini, namun hal itu batal dilakukan kala melihat kondisi Raja Mataram yang nampak kesulitan bernafas!

“Celaka! Raja Mataram nampaknya tidak memiliki kemampuan menyusup ke dalam tanah!” seru Wiro sembari melesat dan memapah Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala kembali ke permukaan tanah. Sesampainyadiatas tanah dilihatnya Ratu Randang dan kawan­kawan lainnyasedang bertempur bersama Kelelawar Hantu dan para Pengawal Istana Atap Langit melawan Lakarontang dan anak buahnya.

dilihatnya juga empat orang yang turun bersama dengan Arwah Ketua dan Kelelawar Hantu tampak turut serta menggempur kekuatan Laskar Lakarontang! Sang Pendekar kemudian memapahSri Maharaja Mataram kedekat Kumara Gandamayana yang nampak memejamkan mata. “Bagaimana keadaan Yang Mulia…? Apakah Yang Mulia terluka…?” tanya Sang Pendekar sembari memperhatikan Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala yang nampak terbatuk­batuk.

“Aku tidak apa­apa Ksatria Panggilan… nafasku hanya sedikit sesak akibat cekikan makhluk keparat itu! Sebentar lagi aku akan segera bergabung dengan kalian… cepatlah pergi bantu kawan­kawanmu… biarkan aku beristirahat sebentar disini…” ucapSang Raja seraya menyandarkan punggungnya ke dinding keraton. Wiro memandang suasana pertempuran yang berlangsung. Dilihatnya kawan­kawannya beserta Kelelawar Hantu dan laskar Pengawal Atap langit dibantu Lima orang yang lainnya perlahan­lahan mampu menekan bahkan mendesak Lakarontang dan Laskarnya. Sang Pendekar memalingkan wajahnya kearah Sang Raja.

 “Aku harus membalas kematian Sakuntaladewi dan Ni Gatri Yang Mulia…” desis Sang Pendekar. Sang Raja tampak mengagukkan kepalanya. “Keadaan sudah agak membaik, memang sudah seharusnya kau membunuh kedua orang itu Ksatria Panggilan…” ucap Sang Raja.

Sang Pendekar pun langsung melesat menyelusup kedalam tanah dengan menggunakan ilmu yang diberikan Kumara Gandamayana. Namun sejauh yang dapat ditembusnya tidak dilihatnya bayangan Dirga Purana maupun Hantu Bara Kaliatus.

Sang Pendekar pun mengerahkan ilmu menembus pandang pemberian Ratu Duyung namun keberadaan Dirga Purana dan Hantu Bara Kaliatus tetap tidak dapat ditemukannya. Sang Pendekar menggeram kesal lalu segera melesat keatas. namun saat tubuhnya baru melesat keluar dari dalam tanah, tiba­tiba didengarnya Jaka Pesolekberteriak keras kearahnya. “Sang Hyang Jagatnatha…!” Sementara itu Sang Pendekar pun melihat Ratu Randang, Kunti Ambiriserta Raja Mataram memandang dirinya dengan pandangan terpana! “Wiro…!” teriak mereka bersamaan seraya berlari memburu kearahnya. Sang Pendekar mengkerutkan kening saat melihat kelakuan mereka yang dianggapnya aneh.

Wiro hendak berucap namun dirasanya mulutnya terasa penuh. Rasa asin bercampur asam terasa memenuhi mulutnya hingga tanpa sadar Sang Pendekar tersedak. “Darah…” desis Sang Pendekar seraya menyeka mulutnya yang belepotan. Wiro tiba­tiba merasakan sesuatu mengalir dalam tubuhnya.

Sesuatu yang hidup! Saat Sang Pendekar menundukkan wajahnya kebawah, dilihatnya ujung runcing sebuah karang tajam berwarna kebiruan yang anehnya memancarkan warna merah berpendar terhujam keluar menembus ulu hatinya. “Gusti Allah…” desis Sang Pendekarmenyebut Nama Sang Khalik!

Tamat,  Episode Berikut: “ Sabdha Pandhita Ratu ”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama