"Kematian Sang Pendekar" (6)

WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Episode : Kematian Sang Pendekar"  (6)




“Wahai Tujuh Saluang Dewa…! Harap tunjukkan jalan bagi diriku dan kerabatku untuk keluar dari Ruang Tanpa Batas Tanpa Daya…!” begitu ucapan Sang Datuk selesai tedengar kembali suara alunan kidung yang berasal dari ketujuh Saluang Dewa yang berputar keras. “bersiap­siaplah…!” seru Sang Datuk kala melihat putaran Saluang semakin melambat dan kala Putaran Ketujuh Saluang akhirnya berhenti Sang Datuk yang kala itu melayang diatas langit bersama keempat orang lainnya kontan jatuh menderu kebawah! Ning Rakanini perdengarkan suara teriakan ngeri kala melihat dirinya lolos ke bawah sementara itu Datuk Rao Basaluang Pitu perlihatkan satu gerakan indah kala merasakan tubuhnya merosot kebawah. 

Sang Datuk terlihat melenting keatas sembari menginjak dua buah saluang yang sedang berputar tak menentu sementara tangannya meraih sebuah Saluang lainnya yang melesat tak jauh dari dirinya.Sesaat kemudian terlihat Sang datuk memainkan sebuah kidung dengan saluangnya sembari berdiri diatas dua buah Saluang lain yang berputar kencang! Empat sinar beraneka warna yang terpancar dari empat buah saluang kemudian nampak bergerak mengejar empat tubuh yang merosot kebawah! Nenek Katai Ning Rakanini tiba­tiba hentikan teriakannya kala dirasa tubuhnya tidak lagi merosot kebawah,

saat diperhatikannya ternyata dirinya saat itu sedang diputari oleh sebuah saluang berwarna kuning. Saluang tersebut berputar kencang di sepanjang pinggangnya dan rupanya hal inilah yang membuat dirinya dapat melayang diangkasa. Saat Ning Rakanini menengok keadaan ketiga rekannya ternyata merekapun mengalami hal yang sama yaitu dikelilingi oleh masing masing sebuah Saluang sehingga mampu melayang dan tidak terjatuh kebawah!

“Bukan main…!” desis Sang Nenek mengagumi kesaktian Saluang Dewa milik Datuk Rao Basaluang Pitu. Saat dirinya memandang keatas matanya langsung melebar terkagum­kagum! Bagaimana tidak,saat itu dilihatnya Datuk Rao Basaluang Pitu tampak berdiri gagah diatas sepasang Saluang yang berputar kencang dibawah telapak kakinya, sementara tubuhnya terlihat berputar mengelilingi kawanan Kelelawar Raksasa dan gerombolan Ratusan Jin Pengawal Hitam­Putih sembari memainkan saluangnya!

 Rambut dan Janggut putih Sang Datuk nampak menjela­jela tertiup angin kala Sang Datuk dengan tubuh berputar­putar laksana gasing kembali mengeluarkan kehebatannya memainkan Sebuah Tembang dari Kitab Aksara Kidung Langgeng Smaradhana! Kelelawar Raksasa dan Ratusan Jin Hitam­Putih Pengawal Istana Atap Langit nampak diam membeku tersirap satu kekuatan dahsyat kala mendengar bunyi tembang yang keluar dari Saluang yang dimainkan oleh Datuk Rao Basaluang Pitu!

***
Lakarontang pandangi langit Mataram di ufuk timur dengan perasaan gelisah. Semburat merah kini nampak mulai menghiasi malam yang kelam sementara di kejauhankokok ayam jantan terdengar bersahutan membuat resah hati Jenazah Simpanan.

 Sementara itu pertempuran semakin lama berlangsung semakin dahsyat! Nampak Ratu Randang, Kunti Ambiridan Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala bertempur habis­habisan dengan menggunakan seluruh kemampuan yang mereka punyai. Sementara itu Kakek Kumara Gandamayana nampak bersandar di satu pecahan pilar penyangga keraton. Nafas Sang Kakek sudah terlihat tak beraturan akibat luka bacokan dipunggungnya, namun Sang Kakek nampaknya belum mau berniat untuk menyerah!

 Walaupun dalam keadaan seperti itu Sang kakek masih terlihat memainkan Sorban Panjangnya guna menghadapi serangan­serangan yang ditujukan pada Raja Mataram. Perlawanan yang diperlihatkan keempat orang ini benar­benar menakjubkan dan diluar perkiraan Jenazah Simpanan!Ratu Randang dan Kunti Ambiri yang masing­masing sebenarnya sudah terluka cukup parah nampak tidak mengundurkan serangan mereka terhadap banjir serangan yang datang dari Laskar Lakarontang, sementara itu Raja Mataram terus terlihat mengamuk hebat menggunakan sepasang tangannya yang berukuran raksasa!

Setiap kali ada musuh yang mendekat pasti langsung dilumatnya dengan sepasang tangannya itu sementara pukulan­pukulan jarak jauh yang dilancarkan kearahnya selalu dipatahkan oleh Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang selalu berkelebat melindungi Sri MaharajaMataram! Lakarontang benar­benar geram! Apalagi saat dilihatnya beberapa orang anak buah Raja Jin hutan Roban yang terlepas dari kendali mayat­mayat hidup peliharaannya juga bertempur membantu rombongan Raja Mataram guna membantu melepaskan rekan­rekannya yang dijadikan budak tunggangan laskarJenazah Simpanan!

 Apa yang diperbuat oleh keempat orang itu mengingatkan Lakarontang akan penyerbuan keempat kepala negeri yang pada saat itu nyaris saja membuatnya terbunuh! perlawanan yang diberikan oleh SriMaharaja mataram dan kawan­kawannya benar­benar serupa dengan perlawanan yang ditunjukkan oleh Lanawi, Lakawung, Hantu Labatu Rengkah dan Luh Pingkan Matindas kala menghadapi barisan mayat hidupnya beberapa ratus tahun lalu di Hutan Lasesatbuntu! Kenyataan ini membuat Lakarontang marah!

Dengan amarah yang meluap­luap Lakarontang kemudian memimpin puluhan laskarnya yang tersisa guna masuk ke gelanggang pertempuran! “Bunuh…! Bunuh mereka semua…! Segarkan tubuh kalian dengan bermandikan darah Raja Mataram dan kawan­kawannya! Jangan sisakan setetes pun darah merekamengalir di tanah Mataram!” teriakLakarontang keras. Maka melesatlah Ratusan orang yang menunggangi Jin Putih Muka Rata kearah Raja Mataram dan rombongannya dengan Lakarontang yang menggunakan tubuh Sangkala Darupadha sebagai pimpinannya!

 Raja Mataram dan rombongannya dan mengeluh dalam hati melihat gelombang serangan yang datang. Sementaraitu Lakarontang kali ini tidak mau berpangku tangan! Walaupun sebagian besar kepandaiannya masih terkunci, namun setelah menghisap seluruh saripati dan inti tenaga Bocah Dirga Purana maka Makhluk satu ini memiliki cukup tenaga untuk melakukan serangan­serangan yang sangat mematikan walaupun tak sehebat kemampuannya yang sesungguhnya!

 Lakarontang nampak menggerakkan kepalanya dan dari lubang di matanya melesat sepasang sinar berbentuk kilat hitam menggidikan yang menghamparkan hawa panas! Sesaat lagi sinar kilat hitam akan melabrak tubuh Ratu Randang dan yang lainnya tiba­tiba dari kegelapan melesat satu bayangan yang langsung memapas sinar kilat hitam dengan kedua tangannya! dan ajaib! kedua tangan jenjang mulus tersebut terlihat memutar­mutar pukulan kilat lakarontang dan kemudian membalikannya kearah laskar Lakarontang yang menyerbu bersamaan!

“Hik..Hik..Hik.. Petir Hitam yang nakal…! kalau masih ada lagi aku masih ingin bermain­main!” ucap seorang gadis yang berdiri tegak di hadapan Kunti Ambiri dan yang lainnya. “Jaka Pesolek…! dari mana saja kau…?” bentak Kunti Ambiri kesal. Gadis yang ternyata adalah Jaka Pesolek Penangkap Petir ini hanya tersenyum saat dibentak oleh DewiUlar.

 “Maafkan aku kawan­kawan, aku ada sedikit urusan jadi datang sedikit terlambat… ngomong­ngomong dimana gerangan Wiro? kenapa aku tidak melihatnya ya..? ucap sang gadis sambil celingukan kiri kanan.

‘Wiro ada diatas sana..!” dengus Kunti Ambiri sebal sembari menunjuk keangkasa dimana pada saat terlihat di kejauhan Sang Pendekar sedang turun dengan mengendarai Jin Putih Muka Rata. Sementara itu di sisi lain Lakarontang benar­benar murka! Tak disangkanya akan ada orang yang bisa memapas dan mengembalikan sinar Bara Moksa Geni yang dimilikinya bagaikan sebuah permainan saja! Sang jenazah Simpanan menggeram keras dan kembali melancarkan pukulan­pukulan jarak jauh berupasinar­sinar hitam kearah Rombongan Raja Mataram.

 “Hantu Bara Kaliatus…! Dirga Purana…! Lakukan tugas kalian!” bentak lakarontang sembari terus melepaskan pukulan Bara Moksa Geni dengan gencarnya! Melihat hal ini Ratu Randang, Kunti Ambiri beserta Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala langsung melepaskan Pukulan jarak jauh masing­masing untuk menghadang datangnya Pukulan Lakarontang! Kunti Ambiri terlihat melepaskan Pukulan sakti berwarna hitam yang diberikan oleh Ratu Ular Kepadanya yakni Pukulan Kobra Karang Penghancur Tulang.

Bersambung Bagian 7

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama