Api Di Bukit Manoreh Jilid 1 Buku 001 Seri Pertama



Karya: S.Mintardja

Sekali-sekali terdengar petir bersambung di udara. Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan diluar seakan-akan tercurah dari langit.

Agung Sedayu masih duduk menggigil diatas amben bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin dan suasana sangat mencemaskan.

“Aku akan berangkat” tiba-tiba terdengar suara kakaknya, Untara dengan nada rendah.

Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang pucat. Dengan suara gemetar ia berkata, “Jangan, jangan Kakang berangkat sekarang.”

“Tak ada waktu,” sahut kakaknya, “sisa-sisa laskar Arya Penangsang yang tidak mau melihat kenyataan menjadi gila dan liar. Aku harus menghubungi Paman Widura di Sangkal Putung. Kalau tidak, korban akan berjatuhan. Anak-anak Paman Widura akan mati tanpa arti. Serangan itu akan datang demikian tiba-tiba.”

“Tidakkah ada orang lain yang dapat menyampaikan berita itu?” potong adiknya.

“Tak ada orang lain” sahut kakaknya.

“Tetapi…” bibir Sedayu gemetar.

“Aku harus pergi.” Untara segera bangkit. Tetapi tangan adiknya cepat-cepat menggapai kainnya.

“Jangan, jangan,” adiknya berteriak, “aku takut!”


Untara menarik nafas panjang. Katanya, “Kau hanya akan berada di rumah ini sendirian malam nanti. Besok kau pergi ke Banyu Asri. Kau akan tinggal disana sampai aku pulang.”

“Aku takut, justru malam ini” sahut adiknya. “Bagaimana kalau laskar yang liar itu datang kemari?”

“Mereka tak akan datang kemari” jawab kakaknya. “Aku tahu pasti. Mereka akan menyergap Paman Widura. Karena itu aku harus pergi.”

“Tidak, tidak” mata Sedayu mulai basah. Dan akhirnya dari matanya itu melelehkan air mata.

Sekali lagi Untara menarik nafas panjang-panjang. Tanpa sesadarnya ia terlempar kembali, duduk disamping adiknya.

Hatinya menjadi bingung. Ia tidak dapat berpangku tangan terhadap laskar Widura yang sedang terancam bahaya. Tetapi adiknya benar-benar penakut. Anak yang telah mendekati usia 18 tahun itu sama sekali menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sepeninggal ayahnya beberapa tahun yang lampau dan ibunya yang baru beberapa bulan, maka anak itu hampir tidak pernah berpisah darinya. Apalagi didalam kekalutan keadaan seperti saat itu. Sehingga dengan demikian Untara merasa seakan-akan memelihara anak bayi.

“Sedayu,” katanya kemudian, “umurmu telah hampir 18 tahun. Dalam usia itu Adipati Pajang yang dahulu bernama Mas Karebet, telah menggemparkan Demak, dan sekarang dalam usia yang muda pula, Sutawijaya berhasil melawang Penangsang yang perkasa.”

“Aku bukan mereka” jawab Sedayu.

Untara mengeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Setidak-tidaknya kau harus malu kepada dirimu sendiri.”

“Tetapi aku takut” Sedayu tidak menghiraukan kata-kata kakaknya.

Kembali Untara termenung. Adalah salahnya sendiri, apabila pada masa kanak-kanaknya adiknya itu terlalu dilindunginya. Kenakalan kawan-kawannya pasti akan dihadapinya. Karena itulah maka Sedayu terlalu tergantung padanya. Dan sampai masa dewasanya, ia tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri. Meskipun adiknya itu selangkah dua langkah diajarnya juga cara-cara membela diri dan di dalam latihan-latihan dapat juga menunjukkan kelincahan dan ketangkasan, namun kelincahan dan ketangkasannya itu terbatas dibelakang dinding-dinding rumahnya. Hatinya terlalu kecil untuk berhadapan dengan dunia. Terasa betapa kerdil jiwanya. Apalagi setelah didengar oleh Agung Sedayu, betapa laskar Penangsang yang sedang berputus asa itu berkeliaran dilereng gunung Merapi.

Untara kini benar-benar kebingungan. Ia menjadi gelisah, sedang waktu merambat terus ke pusat malam. Dan hujan masih saja memukul atap-atap rumah dan dedaunan.

Tiba-tiba Untara mengangkat wajahnya. Gumamnya, “Bagaimana kalau kau ikut?” Namun terasa hatinya sendiri beragu. Kalau ada bahaya di perjalanan dan adiknya itu kena cidera, maka seluruh sanak keluarganya, terutama paman dan bibinya di Banyu Asri, akan menyalahkannya.

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya yang suram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya, pada malam yang gelap dan hujan yang pekat, memaksa diri pergi ke Sangkal Putung. Ketika Sedayu sedang mencoba untuk berpikir, terdengar kakaknya berkata, “Bagaimana Sedayu? Kau tinggal dirumah, atau kau ikut serta?”

“Kedua-duanya tidak menyenangkan” jawab Agung Sedayu.

“Kau harus memilih salah satu dari keduanya” jawab kakaknya, yang akhirnya tidak menemukan jalan lain. Sebab yang melingkar-lingkar di dalam dadanya adalah “laskar Paman Widura harus diselamatkan”, dan itu adalah kewajibannya.

Agung Sedayu menjadi bingung. Keduanya sama sekali tak menarik baginya. Tetapi ia tidak dapat merubah keputusan kakaknya untuk pergi ke Sangkal Putung. Karena itu akhirnya ia memilih untuk ikut serta meskipun dengan dada yang berdebar-debar.

“Bagaimana kalau kita berjumpa dengan laskar itu diperjalanan?” bertanya Agung Sedayu.

“Kemungkinan yang sama dengan kedatangan mereka kerumah ini” sahut kakaknya.

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ketika kakaknya berdiri dan meraih kerisnya dari glodog disamping pembaringannya, Agung Sedayupun berdiri pula. Dibetulkannya letak pakaiannya dan kemudian diteguknya air sere dari mangkuk bambu dengan bibir yang gemetar. Namun hatinya tidak mau tenang juga.

“Bawa kerismu!” perintah kakaknya.

Agung Sedayu menjadi semakin gelisah, tetapi dengan tangan yang menggigil disisipkannya kerisnya di pinggang kiri.

Diikutinya langkah kaki kakaknya melompati tludak pintu menuju ke kandang kuda dibelakang rumah. Namun ketika mereka telah berada di atas punggung-punggung kuda, kembali Agung Sedayu berdesah, “Apakah pekerjaan ini tidak dapat ditunda?”

Kakaknya menggeleng. “Tidak” jawabnya. “Besok pagi-pagi laskar yang liar itu akan menghantam Paman Widura.”

Agung Sedayu memandang malam yang pekat dengan dada yang berdentang-dentang. Pakaiannya telah basah kuyup oleh hujan yang semakin deras.

“Berdoalah” bisik kakaknya. “Tuhan bersama kita.”

Agung Sedayu menggangguk kecil. Tampaklah bibirnya bergerak-gerak. Disebutnya nama Allah Maha Pemurah dan Maha Pengasih.

Kemudian bergeraklah kuda-kuda itu menyusup ke dalam kekelaman malam.

Sesaat kemudian mereka meninggalkan padukuhan Jati Anom menuju ke arah timur. Di belakang mereka berdiri tegak gunung Merapi yang berselimut kepekatan malam dan kepadatan butir-butir air hujan yang berjatuhan dari langit. Ketika guruh menggelegar di udara dan kilat menyambar di atas kepala mereka sekilas tampaklah jalan yang menjalur di bawah kaki-kaki kuda mereka. Becek dan merah, diwarnai oleh tanah liat yang telah bertahun-tahun sedikit demi sedikit meluncur dari lereng-lereng bukit.

Untuk beberapa saat mereka berdiam diri terpaku di atas punggung kuda masing-masing. Hanya setiap kali Agung Sedayu selalu menoleh kepada kakaknya, seakan-akan takut ditinggalkannya. Tetapi kakaknya itu selalu menundukkan kepalanya.

Sebenarnyalah ia sedang berpikir. Apakah yang kira-kira akan terjadi di perjalanan dan apakah yang akan terjadi besok apabila laskar yang liar itu benar-benar akan menyerang. Kedudukan Widura tidak begitu menguntungkan dan jumlah orangnyapun tidak begitu banyak, sebab Sangkal Putung bukanlah daerah yang langsung menghadapi pertempuran. Tetapi sisa-sisa laskar Arya Penangsang yang tidak mau melihat kekalahan Adipati Jipang itu berusaha untuk menimbulkan keributan dimana-mana. Mereka berkeliaran, bahkan melingkari Pajang dan kemudian menyerang daerah-daerah yang jauh di belakang garis perang. Mereka datang setiap saat, dan kemudian menghilang seperti hantu. Hutan-hutan jati dan bahkan hutan-hutan belukar menjadi tempat persembunyian mereka.

Demikianlah petang tadi, Untara menerima berita tentang laskar yang telah kehilangan tujuan perjuangannya itu. Mereka berhasrat untuk menyerang Sangkal Putung. Dan agaknya Widura sama sekali tidak menduga. Namun lumbung-lumbung yang padat di Sangkal Putung, pasti akan dapat memberi perbekalan yang baik bagi laskar yang liar itu. Dan memang itulah tujuan mereka.

Angan-angan Untara terputus ketika mendengar adiknya berbisik, “Kakang, kau melihat bayangan dihadapan kita?”

Untara mengerutkan keningnya. “Ya” jawabnya.

“Orang?” berbisik Agung Sedayu.

Untara menggeleng “Jangan mengada-ada Sedayu. Bukankah itu batang pohon jati yang roboh karena angin tiga hari yang lampau?”

Sedayu mempertajam pandangannya. Namun bayangan itu seperti seseorang yang bertubuh raksasa menghalang di pinggir jalan. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang dan hatinya menjadi tegang. Ia merapatkan kudanya ke sisi kuda kakaknya.

“Hem” kakaknya menggeram. “Kau bukan anak-anak lagi Sedayu. Seharusnya kau berani menempuh perjalanan ini seorang diri.”

Sedayu diam saja. Tetapi hatinya masih tegang.

Ketika kilat menyambar dilangit, dan nyalanya memenuhi lereng gunung Merapi itu, Sedayu menarik nafas panjang. Bayangan itu benar-benar pokok pohon jati yang patah diputar angin.

Tetapi baru saja Sedayu bernafas lega, tiba-tiba kembali dadanya berdebar-debar. Tidak jauh di hadapan mereka terbentang padang rumput dan beberapa ratus langkah lagi, tampak tegak sebatang pohon beringin raksasa. Daerah yang biasa disebut Lemah Cengkar.

“Kita lewat jalan ini?” terdengar suaranya lirih diantara gemerisik hujan.

“Kenapa?” tanya kakaknya.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kakaknya sudah tahu jawabnya. “Kau takut macan putih yang menjagai beringin itu?”

Agung Sedayu mengangguk.

“Tidak” kakaknya meneruskan. “Kita tidak lewat Lemah Cengkar. Kita ambil jalan memintas. Kita belok ke kanan.”

“Lewat jalan dipinggir hutan belukar?” Sedayu menjadi semakin cemas.

“Ya” jawab kakaknya.

“Macanan?” desak adiknya.

“Ya.”

Sedayu semakin gelisah. Katanya, “Bagaimana kalau kita tiba-tiba berjumpa dengan seekor harimau. Bukankah daerah Macanan itu terkenal dengan harimau belangnya?”

“Harimau belang itu tidak seganas macan putih di Lemah Cengkar” Untara menakut-nakuti adiknya, meskipun ia sama sekali tidak takut terhadap macan putih maupun harimau belang. Namun lewat Macanan jalan bertambah dekat.

Agung Sedayu terbungkam. Namun tubuhnya terasa menggigil. Menggigil karena hatinya yang kecut dan menggigil karena dingin. Tetapi kuda mereka berjalan terus. Bahkan ketika Untara mempercepat lari kudanya, Sedayupun segera melecut kudanya pula. Ia tidak mau berjarak lebih tebal dari tubuh kudanya dari kuda kakaknya.

Perjalanan mereka menjadi kian sulit. Tanah yang liat dijalan-jalan sempit itu tampak merah kehitam-hitaman. Dihadapan mereka terbentang hutan belukar. Pandangan mata Untara yang tajam jauh mendahului kaki-kaki kudanya.

Tetapi tiba-tiba Untara mengangkat alisnya. Ketika kilat menyambar ia melihat sesuatu dihadapannya. Kali ini ia melihat bayangan. Bukan pokok kayu jati yang roboh. Dan bayangan itu dilihatnya menghilang diujung jalan.

Untara menjadi berdebar-debar. Ia menoleh kapada adiknya, namun agaknya Sedayu belum melihatnya.

Untara sendiri tidak pernah menjadi takut apapun yang berada didepannya. Tetapi kali ini ia membawa adiknya. Seandainya bayangan itu seekor harimau, maka akan mudahlah untuk mengatasinya. Harimau tidak selalu menyerang seseorang. Kalau harimau itu tidak berdiri ditengah jalan, maka seandainya harimau itu lapar, kuda-kuda mereka akan dapat berlari lebih kencang dari harimau itu. Meskipun seandainya harimau itu menghadang mereka, Untarapun tidak takut, sebab telah dua kali ia terpaksa berkelahi dengan harimau, dan harimau-harimau itu selalu berhasil dibunuhnya. Dibunuh dengan keris yang terselip di pinggangnya itu.

Tetapi bayangan yang bergerak dan menghilang ke dalam hutan adalah bayangan yang tegak diatas kakinya. Ia melihat dengan ketajaman matanya.Dan ia pasti bahwa bayangan itu adalah bayangan seseorang.

Untara menarik nafas untuk meredakan debar jantungnya. Sekali lagi ia memandangi adiknya, bahkan tanpa disengaja ia memperlambat kudanya.

Sedayupun cepat-cepat menarik kekang kudanya. Dengan nafas yang bekejaran ia bertanya, “Ada apa Kakang?”

“Tidak ada apa-apa” sahut kakaknya. “Jalanan di hadapan kita sangat licin.”

“Oh” namun jantungnya menjadi semakin cepat berdentang.

Akhirnya Untara menghentikan kudanya. Dilontarkannya pandangan matanya kehutan di hadapannya. “Apakah yang tersembunyi di balik kekelaman itu?”

Hati Agung Sedayu semakin cemas. Desisnya, “Adakah sesuatu di hadapan kita?”

Untara berbimbang. Tidak seharusnya ia menyembunyikan bahaya yang mungkin berada di balik kehitaman hutan itu. Mereka harus berhati-hati. Tetapi kalau adiknya menjadi ketakutan, keadaan akan lebih jelek lagi.

“Kita lampaui daerah yang licin ini dengan berjalan kaki” jawab kakaknya.

Ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dituntunnya kudanya berjalan perlahan-lahan dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak tahu siapakah yang berada di ujung hutan itu. Kalau mereka menyerang dengan tiba-tiba, maka duduk di atas punggung kuda akan menjadi lebih berbahaya. Seorang kawannya pernah mengalami nasib yang tidak menyenangkan, ketika ia mengalami serangan dengan cara pengecut. Dilintangkan oleh para penyerang itu, seutas tali untuk menjatuhkan kudanya. Kemudian dalam keadaan yang sulit kawannya itu tudak mampu mempertahankan diri. Dan kini ia tidak mau mengalami nasib serupa itu.

Hati Sedayu menjadi bertambah kecut. Ia merasa sesuatu yang tidak pada tempatnya. Karena itu ia bertanya lagi sambil merapatkan diri di samping kakaknya, “Adakah sesuatu yang berbahaya?”

Kakaknya tidak mau berbohong lagi. Jawabnya, “Bersiaplah. Mungkin kita berjumpa dengan bahaya, tetapi mungkin pula kita mendapat teman.”

Denyut nadi Sedayu seakan-akan berhenti. Dengan tergagap ia berkata, “Kakang, apakah tidak sebaiknya kita kembali?”

“Nasib Paman Widura tergantung kepada kita” sahut kakaknya.

“Tetapi nasib kita sendiri?” desak adiknya.

Untara tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang wajar. Tetapi ada sesuatu yang tidak dirasakan oleh adiknya itu. Ia merasa wajib untuk menyelamatkan laskar Widura, pamannya yang telah bertahun-tahun bersama-sama dalam satu ikatan perjuangan. Dan yang terakhir, mereka berdua berdiri di pihak Pajang dalam pertentangannya dengan Jipang. Karena itu ada beberapa dorongan yang kuat yang memaksanya untuk berjalan terus.

Karena Untara tidak menjawab, Sedayu mendesaknya “Kakang, kenapa kita tidak kembali. Bukankah nasib kita sendiri lebih berharga dari nasib siapapun juga?”

“Belum pasti kita akan menjumpai bahawa Sedayu. Bahkan mungkin kita akan mendapat teman seperjalanan. Syukurlah kalau yang berada diujung hutan itu anak-anak Paman Widura sendiri”. Namun apa yang dikatakannya sama sekali tidak diyakininya. Sangkal Putung masih agak jauh.

“Adakah seseorang di ujung hutan itu?” Sedayu semakin cemas.

“Ya” jawab Untara berat.

“Kakang lihat?” desak Sedayu.

“Ya.” Untara menjadi semakin cemas. Kalau adiknya menjadi ketakutan, sulitlah keadaannya.

Apa yang diduganya itu benar-benar terjadi. Tiba-tiba Sedayu semakin merapatkan dirinya sambil merengek, “Kakang, marilah kita kembali.”

“Jangan, Sedayu” jawab kakaknya membesarkan hati adiknya. “Kita lihat siapakah yang berada diujung hutan itu.”

“Mereka pasti laskar Arya Penangsang” sahut adiknya.

“Kenapa kita mesti takut kepada mereka?” bertanya kakaknya.

“Mereka adalah orang-orang sakti” jawab adiknya.

“Kita juga laki-laki seperti mereka, Sedayu” bombong kakaknya. “Apabila mereka orang-orang sakti, mereka tidak akan dikalahkan oleh laskar Pajang.”

“Kita bukan laskar Pajang” bantah adiknya.

“Aku salah seorang dari prajurit Pajang” potong kakaknya. Untara bukanlah seorang yang biasa menyombongkan dirinya. Tetapi ia mengharap adiknya mempunyai kepercayaan kepadanya dan tidak akan menyulitkan keadaanya seandainya ia benar-benar harus menghadapi bahaya.

“Tetapi aku bukan” rengek adiknya pula. Bahkan kini Sedayu telah mulai menarik-narik bajunya.

Untara menjadi gelisah. Tetapi ia tidak menjawab. Jarak mereka telah semakin dekat dan Untara tidak memutar langkahnya. Ketika adiknya akan berkata lagi, Untara berdesis, “Diamlah! Supaya orang–orang dimuka kita tidak tahu bahwa kau penakut. Dengan demikian mereka akan semakin berani. Dan mereka akan mempermainkan kita seperti kelinci.”

Sedayu terbungkam. Betapa ia menjadi sangat takut untuk menyatakan ketakutannya. Karena itu dengan lutut yang gemetar iapun berjalan terus.

Tiba–tiba Untara menggeram. Untunglah mereka tidak akan dapat melihat bambu wulung yang kehitam–hitaman itu. Apalagi di dalam kepekatan hujan malam yang kelam. Namun ketajaman mata Untara dapat membedakannya dengan warna air yang keputih–putihan memantulkan cahaya cakrawala yang sangat lemah. Dan apabila kaki–kaki kuda mereka menyentuhnya, akibatnya akan mengerikan sekali.

Beberapa langkah dari bambu yang melintang itu Untara berhenti. Tak ada seorangpun yang tampak. Namun ia yakin di dalam hutan, di balik pohon–pohon yang rapat itu, pasti bersembunyi seseorang atau lebih.

Ketika Sedayu melihat bambu yang melintang itu, maka darahnya seakan–akan membeku. Ia pernah melihat cerita kakaknya tentang seseorang yang malang melanggar seutas tali yang terentang di jalan. Tetapi hatinya telah benar–benar dicekam oleh ketakutan sehingga sama sekali ia tidak berani berkata sepatahpun. Bahkan terasa lututnya semakin gemetar, dan seakan–akan ia telah tidak mampu lagi untuk berdiri tegak diatas kedua kakinya itu.

Sekali, Untara menarik nafas. Ia tak mau mendekat lagi. Sebab dengan demikian, ia akan berada di dalam kedudukan yang kurang baik. Orang–orang yang berada di belakang rimbunnya daun–daun akan dapat melihatnya dengan jelas, sedang ia sendiri tak akan dapat melihat mereka. Karena itu, sengaja Untara menanti salah seorang dari mereka atau beberapa orang sekaligus datang kepadanya.

Untuk sesaat keadaan menjadi sunyi tegang. Nafas Sedayu terdengar berebut dahulu keluar dari hidungnya. Ia tidak berani berkata apapun, namun tangannya erat berpegangan baju kakaknya. Perlahan–lahan tangan Untara meraba tangan adiknya, dan dicobanya untuk melepaskan pegangan itu. Sebab setiap saat ia perlu bergerak cepat. Tetapi Sedayu berpegangan semakin erat bahkan sekali-sekali menariknya.

Untara menarik nafas.

Tiba-tiba Sedayu terkejut ketika kakaknya berkata lantang, “Biarkan mereka Sedayu. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Namun kalau mereka mengganggu kita, kau baru boleh bertindak sesuka hatimu. Syukurlah kalau mereka sahabat-sahabat kita yang baik.”

Sedayu tidak tahu maksud kata-kata itu. Bahkan debar jantungnya seperti akan memecah dadanya. Ia ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya seperti telah tersumbat.

Tetapi yang diharapkan Untara terjadilah. Orang-orang yang bersembunyi di balik pohon-pohon yang rimbun itu mendadak menjadi tidak sabar. Sehingga dengan demikian terdengar salah seorang diantara mereka berteriak “Siapa kalian?”

Pertanyaan itu bagi Sedayu terdengar seperti petir yang meledak di telinganya. Kini tidak saja lututnya yang gemetar, tetapi seluruh tubuhnya menggigil dan dadanya bergetar, sedang darahnya seolah-olah berhenti menyumbat kerongkongan, sehingga nafasnya menjadi sesak. Ia tidak dapat bertahan berpegangan baju kakaknya lagi ketika tangan kakaknya menyentuh tangannya. Kini Untara dapat maju selangkah, bisiknya “Peganglah kendali kuda-kuda kita”

Tetapi Sedayu tidak menangkap kendali kuda Untara bahkan dengan tidak disadarinya, kembali ia berpegangan baju kakaknya.

Perlahan-lahan kakaknya menarik tangan adiknya adiknya sambil berkata lirih “Sedayu, kalau kau tak mau memegang kendali kuda, jangan berpegangan bajuku, berpeganganlah tangkai kerismu.”

Tetapi hati Sedayu yang tinggal semenir itu tak dapat lagi menangkap arti kata-kata kakaknya. Ketika kakaknya bergeser selangkah lagi, tangan Sedayu terkulai lemas. Dan ia berdiri diantara dua ekor kuda seperti tiang yang lapuk. Sebuah sentuhan yang tak berarti akan dapat merobohkannya.

Dalam pada itu kembali terdengar suara dari ujung hutan berteriak diantara butir-butir hujan yang sudah mulai mereda.

“He, siapa kalian?”

Untara mencoba menembus kepekatan malam, namun ia tak berhasil. Karena itu maka dijawabnya berhati-hati “Kami anak-anak dari Sendang Gabus. Siapakah kalian?”

“Anak siapa?” terdengar sebuah pertanyaan.

Untara beragu. Adakah mereka mengenal setiap orang di Sendang Gabus? Untara sendiri tidak banyak mengenal orang-orang dari Sendang Gabus, meskipun pedukuhannya Jati Anom tidak jauh dari Sendang Gabus itu. Untuk menyebut namanya tak mungkin baginya. Seandainya orang-orang yang bersembunyi itu sisa-sisa laskar Penangsang, maka nama Untara pasti mereka kenal. Dengan demikian tak mungkin baginya untuk melampaui tempat itu tanpa pertumpahan darah. Karena itu ia mencoba menyembunyikan namanya sejauh mungkin. Ia masih mencoba untuk menghindarkan diri dari bentrokan kekerasan, sebab tugasnya adalah tugas yang sangat penting. Kalau ia gagal mencapai Sangkal Putung maka Widura akan mengalami bencana. Karena itu maka ia menjawab untung-untungan “ Anak Sadipa.”

“Sadipa?” sahut suara di ujung hutan

“Ya”

“Sadipa yang mana, yang tinggi sakit-sakitan atau yang pendek kudisan?” bertanya suara itu pula.

Kembali pengenalannya atas orang yang bernama Sadipa, “Sadipa yang lain. Tinggi besar, berkumis panjang. Tetapi yang satu tangannya cacat.”

“Bagus,” sahut suara itu, “kau benar-benar anak Sendang Gabus, kau benar-benar kenal dengan Sadipa. Tetapi kenapa kau berbohong?”

Untara menjadi berdebar-debar. Ia telah menyebutkan sebuah nama yang dikenalnya. Ia telah menyebutkan ciri-cirinya. Tetapi orang dibelakang kegelapan itu tahu ia berbohong.

Tiba-tiba Untara melihat banyangan yang bergerak-gerak muncul dari balik pepohonan. Cepat ia melangkah surut, selangkah saja di muka adiknya. Nalurinya telah membawanya untuk melindungi adiknya yang menggigil ketakutan. 


Bersambung Bagian 2

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama