Api Di Bukit Manoreh (3)




Api Di Bukit Manoreh Jilid 1 buku 001 bagian (3)
Karya :  S.Mintardja


Sebenarnyalah bahwa nasib manusia ditentukan oleh kekuasaan di luar kemampuan jangkau manusia. Pisau yang berlari seperti panah itu meluncur dengan cepatnya melampaui Untara. Namun tanpa disangka-sangka terdengarlah sebuah jerit tertahan. Orang yang terbaring karena tulang kakinya retak itu tiba-tiba terguling sekali, kemudian ia mencoba mengangkat wajahnya dengan pandangan aneh. Tetapi sesaat kemudian kepalanya jatuh terkulai. Mati. Sebuah pisau telah tertancam langsung menyayat jantung.

Yang melihat peristiwa itu untuk sesaat terpaku diam. Untara dan kedua lawannya. Dada mereka masing-masing terguncang oleh peristiwa yang tak mereka sangka-sangka. Apalagi orang yang bertubuh tinggi besar itu. Tanpa disengajanya, ia telah membunuh kawannya sendiri.

Kini Untara untuk seterusnya tinggal menghadapi dua lawan. Namun darah telah terlalu banyak mengalir dari lukanya. Karena itu tubuhnyapun semakin menjadi lemas. Sebab dengan demikian berarti maut akan menerkamnya. Karena itu segera ia bersiap untuk melanjutkan pertempuran itu.

Kedua lawannyapun telah bersiap pula. Anak muda yang bersenjata pedang itu setapak demi setapak maju mendekat, sedang orang yang bertubuh tinggi besar yang kini tidak bersenjata lagi itu masih mencoba untuk melawannya dengan tangannya.

Kedua lawan Untara itupun agaknya melihat kemungkinan yang dihadapinya. Mereka lamat-lamat melihat darah meleleh dari luka di pundak Untara. Karena itu mereka asal saja dapat memperpanjang perlawanan mereka, Untara pasti akan dapat mereka binasakan. Alangkah mereka dapat berbangga kepada kawan-kawan mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh salah satu perwira Pajang yang bernama Untara. Nama yang disegani oleh lawan dan dikagumi oleh kawan.

Sesaat kemudian kembali anak muda itu menyerang dengan tangkasnya. Kemampuannya memainkan pedang cukup menarik perhatian Untara. Tetapi Untara tidak banyak mempunyai waktu. Kalau ia terlambat maka ia akan ditelan oleh maut. Karena itu selagi masih cukup mempunyai tenaga, maka ia harus berjuang untuk menyelamatkan nyawanya, nyawa adiknya dan berpuluh-puluh orang lain di Sangkal Putung. Karena itu,tidak ada pilihan lain bagi Untara, kalau ia tidak membunuh lawan-lawannya, maka taruhannya adalah berpuluh-puluh nyawa di Sangkal Putung, termasuk nyawanya sendiri.

Tetapi anak muda lawannya itu benar-benar lincah. Dengan sengaja ia memancing Untara untuk bergerak terlalu banyak, sehingga dengan demikian darah yang mengalir dari luka menjadi semakin banyak pula. Namun Untara bukan anak-anak lagi, karena itu meskipun ia memuji didalam hatinya atas kecerdasan lawannya, namun ia mengumpat-umpat pula.

Namun Untara selalu menahan dirinya untuk tidak hanyut dalam arus kemarahannya. Ia menyerang dengan dasyat, namun ia tidak membiarkan tenaganya diperas sia-sia.

Meskipun tenaga Untara telah banyak berkurang, namun kekuatan lawannyapun tinggal separo dari semula. Dengan demikian maka segera tampak, bahwa Untara akan segera dapat mengatasi kedua lawannya. Kedua orang itu semakin lama semakin terdesak, dan akhirnya sampailah mereka pada batas kemampuan mereka. Selagi Untara masih kuat mengayunkan senjatanya, maka sekali lagi terdengar sebuah pekik kesakitan. Orang yang tinggi besar itupun rebah ditanah untuk tidak bangun lagi.

Yang tinggal kini adalah anak muda yang lincah itu. Meskipun anak muda itu melihat kelemahan lawannya, namun ia masih mampu untuk menilai diri sendiri. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat surut dan dengan lantang ia berteriak, “Kali ini kau menang Untara, tetapi lain kali kau akan menyesal. Apalagi kawanmu, pengecut itu, seumur hidupnya tidak akan tenteram selama aku masih hidup di dunia ini.”

Untara tidak mau mendengar kata-kata itu. Cepat ia meloncat menyerang. Tetapi ia sudah tidak setangkas semula. Tulang-tulangnya seperti menjadi lemas dan tak berdaya. Karena itu ia menjadi cemas, jangan-jangan anak muda itu akan berlari-larian dan menunggunya sampai ia terkulai jatuh. Dengan demikian, maka ia tak akan berdaya lagi menghadapi kemungkinan apapun.

Tetapi tidaklah demikian. Anak muda itu bahkan tiba-tiba meloncat menjauh, dan berlari meninggalkan tempat itu. Ia sudah tidak melihat lagi ketika Untara terhuyung-huyung berjalan mendekati adiknya.

“Sedayu” desisnya.

Sedayu masih menggil ketakutan. Tetapi ia melihat Untara dengan susah payah datang kepadanya. Karena itu iapun segera berlari mendekat, “Kakang, kenapa kau?” terdengar suaranya gemetar.

Nafas Untara semakin lama semakin cepat mengalir. Badannya gemetar seperti orang kedinginan. Dengan mata yang sayu dipandanginya wajah adiknya yang pucat. Dan sekali-sekali tangannya meraba luka pundaknya. Luka itu cukup dalam, namun sebenarnya tidak begitu berbahaya seandainya darahnya tidak terlalu banyak mengalir.

“Tolong,” desis Untara, “balut lukaku.”

Sedayu melihat luka yang menganga di pundak kiri kakaknya. Ia menjadi ngeri melihat luka itu. Tetapi dipaksanya dirinya untuk membalut luka itu dengan sobekan kain kakaknya.

“Sedayu,” Untara berdesis sambil menahan nyeri, “darahku sudah terlalu banyak mengalir. Kau dapat menolong aku berjalan?”

“Tentu” jawab adiknya. Namun matanya beredar mencari kuda mereka. Tetapi kuda itu sudah tak tampak lagi.

Tetapi Untara masih berkata lagi, “Jangan membuang waktu. Kuda-kuda itu sudah tidak ada disekitar tempat ini.”

Sedayu tidak menjawab. Dicobanya memapah Untara berjalan di jalan-jalan yang becek berlumpur.

Sekali-sekali terdengar Untara menggeram. Tidak saja karena perasaan pedih yang selalu menyengat-nyengat pundaknya, namun juga berbagai perasaan telah bergelut di dalam dadanya. Untara tidak saja mencemaskan dirinya, namun ia cemas juga akan nasib adiknya. Lebih-lebih lagi tentang nasib Widura dengan laskarnya. Anak muda yang melarikan diri itu dapat membawa banyak akibat. Ia akan dapat kembali mencari mereka berdua di sekitar tempat ini dengan kawan-kawan baru, atau anak itu dapat memperhitungkan arah perjalanannya, sehingga serangan ke Sangkal Putung akan dipercepat.

Pikiran Sedayupun tidak pula dapat berjalan lagi. Ia melangkah dengan hati yang kosong. Berbagai perasaan yang memukul-mukul dadanya telah menjadikan Sedayu kehilangan pengamatan diri. Ia tidak merasakan dan menyadari apa yang telah dilakukan. Ia berjalan karena kakaknya menyuruhnya berjalan sambil menggantung di pundaknya dengan tangan kanannya.

Untara menjadi semakin cemas ketika diantara rasa sakitnya timbul suatu perasaan aneh. Matanya serasa akan selalu terkatub. Dan sesaat-saat kesadarannya seperti lenyap. Segera Untara tahu bahwa ia telah hampir kehabisan darah. Dengan demikian ia akan dapat pingsan setiap saat. Dalam kecemasannya Untara masih menyadari, bahwa ia tidak akan mungkin dapat mencapai Sangkal Putung dalam keadaannya itu, apabila ia tidak mendapat pertolongan.

Sekali-sekali Untara menarik nafas. Di sekitarnya terbentang hutan belukar meski tidak terlalu tebal. Namun tempat itu tak akan di temui rumah seseorang. “Kalau saja aku dapat mencapai rumah Ki Tanu Metir” tiba-tiba ia berdesis.

Adiknya terkejut mendengar suara kakaknya. “Apa katamu?” ia bertanya.

“Rumah Ki Tanu Metir” jawabnya.

Sedayu pernah pula pergi ke rumah Ki Tanu Metir bersama ayahnya dahulu di Dukuh Pakuwon. Tetapi rumah itu masih agak jauh. Dan tiba-tiba saja Sedayu menyadari keadaannya. Dengan penuh ketakutan ia memandang berkeliling. Belukar. Kalau saja tiba-tiba ada binatang buas yang muncul di hadapan mereka, maka celakalah mereka berdua.

Sehingga dengan demikian Sedayu tidak teringat lagi kepada kata-kata kakaknya, bahkan katanya dengan gemetar, “Jalan dihadapan kita sangat gelapnya. Bagaimanakah nasib kita kalau kita bertemu dengan harimau misalnya?”

“Hem” kakaknya menahan perasaannya. Katanya tanpa menghiraukan adiknya, “Kita pergi ke tempat Ki Tanu Metir.”

“Masih jauh” sahut adiknya.

“Kalau lukaku tak diobati,” jawab kakaknya, “aku akan mati.”

Sedayu menjadi ngeri mendengar kata-kata kakaknya. Bagaimana kalau kakaknya benar-benar mati. Karena itu ia berdiam diri, meskipun hatinya dicekam oleh ketakutan. Takut kepada kegelapan di hadapannya, takut kepada nasibnya. Memang ia takut kepada segala-galanya. Tetapi ia lebih takut lagi kalau kakaknya mati.

Karena itu ia tidak berani membantah lagi. Dipapahnya kakaknya berjalan menuju ke Dukuh Pakuwon, meskipun kengerian selalu merayap-rayap di dadanya.

Untara semakin lama semakin lemah. Meskipun demikian ia selalu berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Sungguh tidak menyenangkan apabila ia harus mati karena darahnya kering. Baginya lebih baik mati dengan luka pedang menembus jantungnya. Tetapi ia tidak berputus asa. Ia percaya bahwa Allah Maha Pengasih. Karena itu ia selalu memanjatkan doa di dalam hatinya, semoga Allah menyelamatkannya.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Mereka mendengar gemerisik daun di dalam belukar. Hati Sedayu yang kecut menjadi semakin kecil. Dengan suara gemetar ia berbisik, “Kakang, kau dengar sesuatu?”

Untara mengangguk. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Tubuhnya telah demikian lemahnya. Karena itu maka yang dapat dilakukan hanya menyerahkan diri sepenuhnya kepada sumber hidupnya.

Tetapi tiba-tiba Untara mengangkat wajahnya. Katanya lirih, “Bukan langkah manusia, dan bukan pula binatang buas yang sedang merunduk. Kau dengar ringkik kuda?”

“Ya” sahut adiknya.

Untara kemudian bersiul nyaring. Kudanya adalah kuda yang jinak. Seandainya kuda itu kudanya, maka akan dikenalnya suara siulan itu.

“Ya Allah” serunya ketika dari dalam belukar muncul seekor kuda yang tegar kehitam-hitaman. “Itu kudaku.”

Wajah Sedayupun menjadi agak cerah. Katanya, “Lalu, apakah kita akan berkuda?”

“Ya,” sahut kakaknya, “kudamu tak ada, namun kita berdua akan berkuda bersama-sama.”

“Kembali?”

“Tidak,” jawab Untara, “ke rumah Ki Tanu Metir, supaya lukaku diobatinya.”

Sedayu tidak membantah. Ia takut kalau kakaknya mati. Karena itu dibantunya Untara naik ke atas punggung kudanya, baru kemudian iapun naik pula. Untunglah bahwa kuda Untara adalah kuda yang kuat, karena itu, meskipun di atas punggungnya duduk dua anak muda, namun kuda itu masih dapat berlari kencang.

Kini harapan di dalam dada Untara tumbuh kembali. Ia akan dapat mencapai rumah Ki Tanu Metir lebih cepat. Mudah-mudahan Ki Tanu Metir ada dirumahnya.

Demikianlah, setelah mereka menembus rimbunnya pategalan yang subur di ujung hutan, sampailah mereka ke padukuhan kecil yang dinamai orang Dukuh Pakuwon. Di padukuhan kecil itulah tinggal seorang dukun yang sudah setengah tua. Yang dengan pengalamannya ia mengenal berbagai jenis dedaunan yang dapat dipakainya untuk menyembuhkan luka, dan bahkan dikenalnya beberapa jenis racun yang menusuk ke dalam tubuh seseorang. Orang itulah yang bernama Ki Tanu Metir. Kepadanya Untara meletakkan harapannya, mudah-mudahan Ki Tanu Metir dapat menolongnya.

Kuda-kuda anak muda itu berhenti di muka sebuah pondok kecil. Pondok Ki Tanu Metir. Setelah menolong kakaknya turun dari kuda, maka dipapahnya kakaknya itu ke pintu yang tekatup rapat.

Namun demikian Untara berlega hati ketika dilihatnya cahaya lampu yang memancar menembus lubang-lubang dinding.

Perlahan-lahan Untara mengetuk pintu rumah itu dengan penuh harapan. Ki Tanu Metir adalah sahabat almarhum ayahnya dahulu. Mudah-mudahan sisa-sisa persahabatan itu masih membekas di hati dukun tua itu.

Ketika mereka telah beberapa kali mengetuk, terdengarlah sapa dari dalam, lirih, “Siapa?”

“Aku, Ki Tanu,” jawab Untara, “Untara, dari Jati Anom.”

“Untara?” ulang Ki Tanu Metir. “Untara. O, adakah engkau Angger Untara putera Ki Sadewa?”

“Ya, Ki Tanu” jawab Untara dengan suara gemetar.

Ki Tanu Metir segera mengenal suara itu. Suara seseorang yang sedang mengalami cedera. Karena itu dengan tergesa-gesa orang tua itu berjalan ke arah pintu. Terdengar suara telumpahnya diseret di atas lantai tanah.

Sesaat kemudian pintu bambu itu bergerit, dan munculah dari celah-celahnya seorang tua bertubuh sedang. Rambutnya telah hampir seluruhnya menjadi putih. Alisnya yang tumbuh jarang-jarang diatas sepasang matanya telah memutih pula. Dahinya terbuka lebar, serta dibawahnya memancar sepasang mata yang tajam bening.

Ketika ia melihat Untara dipapah adiknya, orang tua itu terkejut dan terloncatlah dari mulutnya, “Kau terluka Ngger?”

“Marilah,” Ki Tanu Metir mempersilahkan, “duduklah. Biarlah aku mencoba melihat luka itu.”

Untara berlega hati. Ia tak perlu memintanya. Orang tua itu telah berusaha untuk menolongnya atas kemauan sendiri.

Segera orang tua itu menuntun Untara dan dipersilahkan duduk di atas bale-bale bambu. Katanya kepada Sedayu “Tolong Ngger, peganglah cilupak ini, mataku telah menjadi kurang baik.”

Sedayupun segera melangkah mengambil lampu minyak kelapa dan membawa ke dekat kakaknya. Sementara itu Ki Tanu telah sibuk membuka pembalut luka di pundak Untara.

Ketika Ki Tanu melihat luka yang menganga itu, ia menggelengkan kepalanya. Gumamnya, “Hem, luar biasa.”

“Apa yang luar biasa?” desis Untara.

“Tubuhmu sangat tahan, Ngger. Sudah berapa darah yang tertumpah. Angger masih tetap sadar. Marilah, bersandarlah supaya Angger tidak terlalu lelah.”

Untara segera bersandar pada setumpuk bantal. Terasa tulang-tulangnya seperti dilolosi. Sebentar-sebentar matanya terkatub dan perasaannya seperti hilang-hilang datang. Karena itu segera Untara memusatkan segenap kekuatan betinnya untuk bertahan. Sementara Ki Tanu Metir memelihara luka itu, tiba-tiba terbersit kembali dalam pikiran Untara, “Widura harus diselamatkan.”

Tetapi kemudian disadarinya keadaan diri. Dengan demikian Untara hanya dapat menarik nafas untuk mencoba menentramkan hatinya yang bergolak.

Sambil mengusapi luka Untara dengan reramuan daun-daunan Ki Tanu bertanya, “Agaknya Angger berdua menjumpai bahaya di perjalanan.”

“Ya” jawab Untara singkat.

“Penyamun?” bertanya Ki Tanu pula.

Untara menggeleng lemah. “Bukan,” jawabnya, “sisa-sisa laskar adipati Jipang.”

“Hem,” gumam Ki Tanu, “mereka berkeliaran di tempat ini.”

“Di sini?” Untara terkejut mendengarnya.

“Ya, di sekitar tempat ini” jawab Ki Tanu.

Untara diam sejenak. Nafasnya menjadi kian sesak. Namun darahnya sudah tidak mengalir lagi dari lubang lukanya.

“Salah satu di antara mereka adalah Pande Besi dari Sendang Gabus” berkata Untara lirih.

“Ya, mereka itulah,” sahut Ki Tanu, “segerombolan orang –orang yang putus asa. Adakah Angger bertemu dengan Pande Besi itu?”

“Ya” jawab Untara.

“Sendiri?”

“Tidak. Mereka mencegat jalan diujung hutan. Berempat.”

“Angger berdua?” potong Ki Tanu.

“Ya” jawab Untara. Tetapi Sedayu segera menundukkan wajahnya.

“Sungguh luar biasa. Angger berdua berhadapan dengan empat orang yang bengis. Pande Besi itu terkenal di daerah ini” berkata Ki Tanu seterusnya. “Bagaimana dengan mereka? Dan siapa sajakah mereka itu?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Lukanya sudah tidak terlalu pedih. Tetapi tenaganyalah yang terasa semakin susut. Karena itu ia menjawab singkat, “Aku belum kenal mereka.”

“O” Ki Tanupun segera menyadari keadaan tamunya, maka segera ia menyelesaikan pekerjaannya. Baru kemudian ia duduk di samping Agung Sedayu dan dibiarkannya Untara beristirahat bersandar setumpuk bantal.

“Bagaimanakah lawanmu yang tiga orang, Ngger?” bertanya Ki Tanu kepada Sedayu.

Sedayu menjadi bingung. Sebenarnya ia malu mendengar pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia menjawab, “Seorang tinggi kekurus-kurusan.”

“Sebenarnya ia orang lugu,” potong Ki Tanu, “sayang ia terlalu mudah terpikat. Namanya Tumida.”

“Yang seorang tinggi besar” sambung Sedayu.

“Aku belum mengenalnya” gumam Ki Tanu.

“Yang seorang lagi masih muda” Sedayu meneruskan.

“Sebaya angger?” bertanya Ki Tanu.

“Kira-kira” Sedayu mengangguk.

“Alap-Alap Jalatunda” desis Ki Tanu. “Anak itu ikut serta?”

“Ya” jawab Sedayu, namun dadanya bergetar. Nama Alap-Alap Jalatunda pernah di dengarnya.

Mendengar nama itu Untara terperanjat pula. Desisnya, “Jadi anak itukah yang disebut Alap-Alap Jalatunda. Pantas ia lincah dan cerdas.”

“Ya” sahut Ki Tanu. “Nama itu timbul sesudah laskar Penangsang pecah. Pande Besi dan Alap-Alap Jalatunda menjadi terkenal. Mereka bersarang di Karajan”.

“Di Karajan?” ulang Untara heran. “Di samping Jati Anom?”

“Ya” jawab Ki Tanu.

Untara kemudian termenung. Kalau demikian mereka bukan bagian dari laskar yang akan memukul Sangkal Putung. Dengan demikian Untara menjadi sedikit berlega hati. Namun kecemasannya yang lain segera timbul. Kalau demikian maka mereka segera akan datang kembali dengan kawan-kawan baru mereka menjelajahi tempat ini untuk mencarinya.

Ketia ia sedang berangan-angan, terdengar Ki Tanu bertanya kepada Sedayu, “Mereka itukah yang melukai Angger Untara?”

“Ya” jawab Sedayu.

Ki Tanu mengangguk-angguk, kemudian seperti orang terbangun dari tidurnya ia bertanya, “Lalu siapakah Angger ini?”

“Sedayu,” jawab Sedayu, “adik Kakang Untara.”

“Pantas, pantas” orang tua itu mengangguk-angguk. “Kalian menjadi seakan-akan sepasang burung rajawali yang perkasa. Kalau tidak, tidak akan kalian dapat melawan Pande Besi dan Alap-Alap Jalatunda sekaligus. Apalagi bersama kedua kawan-kawannya yang lain. Lalu bagaimana dengan mereka? Adakah mereka mengejar kalian?”

Sekali lagi Sedayu menundukkan wajahnya. Kemudian perasaan malu merayapi dadanya. Telinganya menjadi gatal mendengar orang tua itu menyebut mereka berdua seperti sepasang burung rajawali. Tetapi sejalan dengan itu Sedayu menjadi semakin kagum kepada kakaknya. Bukankah kakaknya sendiri dapat melawan mereka berempat, dan membunuh tiga di antaranya. Maka segera ia menjawab dengan bangga, “Tiga di antaranya terbunuh. Anak muda yang bernama Alap-Alap Jalatunda itu melarikan diri”.

“Luar biasa, luar biasa” gumamnya. Diamat-amatinya Untara yang bersandar sambil memejamkan matanya. Perlahan-lahan orang tua itu mengusap keningnya sambil berdesis, “Nama Untara benar-benar cemerlang. Kini akan tumbuh nama baru di sampingnya, Sedayu.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Ia tidak berani memandangi wajah kakaknya yang menjadi kian pucat. Kalau saja ia mampu berbuat seperti yang di katakan orang tua itu, maka kakaknya pasti tidak akan terluka.

Karena itu tiba-tiba tanpa disengajanya, Sedayu memandang kepada dirinya. Seorang penakut yang tidak ada bandingnya. Pada saat kakaknya berjuang untuk menegakkan Pajang, ia hanya dapat bersembunyi di rumah pamannya di Banyu Asri. Pada saat anak-anak muda memandu senjata, yang dilakukannya tidak lebih daripada membantu bibinya menanak nasi dan membelah kayu. Tidak lebih daripada itu.

Sedayu memejamkan matanya. Tetapi seakan-akan bayangan masa lampaunya menjadi semakin jelas. Dikenangnya kembali masa kanak-kanaknya. Ayah dan ibunya terlalu menanjakannya setelah dua orang kakaknya yang lain, adik-adik Untara, meninggal pada umurnya yang tidak lebih dari empat dan enam tahun. Karena mereka takut kehilangan Agung Sedayu pula, maka mereka memeliharanya agak berlebih-lebihan. Agung Sedayu menyadari semuanya itu. Tetapi semuanya sudah lampau.

Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar kakaknya berkata, “Sedayu, aku tidak mampu untuk bangkit berdiri. Bagaimanakah dengan paman Widura?”

Sedayu tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, karena itu ia berdiam diri.

“Jangan pikirkan yang lain,” potong Ki Tanu, “berisitirahatlah.”

Untara berdesis menahan perasaan-perasaan yang bergumpal di dalam dadanya, perasaan cemas dan bingung. Akhirnya terdengar ia berkata perlahan-lahan, “Sedayu. Hanya engkaulah yang aku harapkan untuk menolong menyelamatkan Paman Widura.”

Sedayu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan tergagap ia bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau pergi ke Sangkal Putung” desis Untara.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Benarkah kakaknya menyuruhnya ke Sangkal Putung? Sebelum ia bertanya terdengar Untara berkata pula, “Agung Sedayu, aku tidak tahu lagi, bagaimana aku harus melindungimu. Di sini dan di perjalanan ke Sangkal Putung akan sama saja bahayanya. Bahkan mungkin bahaya itu akan datang kemari lebih dahulu. Sebab orang-orang Alap-Alap Jalatunda pasti akan mencari aku. Kalau benar sarang mereka di Karajan, maka mereka pasti akan sampai ke tempat ini. Mereka pasti memperhitungkan bahwa kita akan datang kemari. Dan mencoba mencari.”

“Tetapi Sangkal Putung tidak terlalu dekat” potong Sedayu terbata-bata. “Jalannya gelap dan licin. Dan bagaimanakah kalau aku bertemu dengan Alap-Alap Jalatunda?”

“Anak itu akan kembali ke Karajan, Sedang kau akan pergi ke selatan. Kalau kau ingin menempuh jalan yang paling aman, meskipun agak jauh, pergilah menyusur Kali Sat, kemudian kau akan sampai Sangkal Putung dari arah barat.”

Mulut Agung Sedayu terasa menjadi beku. Perjalanan ke Sangkal Putung benar-benar tidak menyenangkan. Ia menyesal kenapa ia ikut dengan kakaknya. Kalau ia berada di rumah, maka keadaannya pasti akan lebih baik.

Ki Tanu melihat Agung Sedayu dengan keheran-heranan.. Katanya ragu-ragu, “Sebenarnya aku tidak tahu mengapa Angger harus pergi ke Sangkal Putung. Namun aku melihat sesuatu yang tidak aku duga. Kalau perjalanan ke Sangkal Putung memang penting, kenapa Angger Sedayu berkeberatan? Dan apa pula keberatannya kalau Angger bertemu dengan dengan Alap-Alap Jalatunda?”

Agung Sedayu benar-benar menjadi bingung. Bahkan Utarapun tak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan Ki Tanu Metir itu. Karena itu sesaat kemudian suasana menjadi beku. Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tanu pula “Bukankah Angger Sedayu berdua dengan Angger Untara mampu menghadapi Alap-Alap Jalatunda itu sekaligus dengan Pande Besi Sendang Gabus? Bukankah Pande Besi itu bahkan terbunuh bersama-sama dengan dua kawannya lagi?”

“Angger Sedayu, dalam gerombolan itu tak ada seorangpun yang melampaui kesaktiannya dari si Pande Besi yang tamak itu. Karena itu jangan takut dengan Alap-Alap Jalatunda.”

Mulut Sedayu seakan-akan tersumbat. Nafasnya terdengar meloncat satu-satu, namun dadanya terasa sesak.

Sedang Untara masih duduk bersandar tumpukan bantal. Matanya kadang-kadang terbuka, tetapi kadang-kadang terpejam. Dalam kekelaman pikiran itu Untara benar-benar menjadi bingung. Ia hampir-hampir tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang masih ada, Untara membuat perhitungan-perhitungan. Akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa Agung Sedayu lebih aman diperjalanan ke Sangkal Putung daripada tinggal di Dukuh Pakuwon. Didorong pula oleh rasa tanggung jawab terhadap Widura, maka kemudian ia berkata perlahan-lahan namun penuh kepastian, “Agung Sedayu, tinggalkan tempat ini sebelum Alap-Alap Jalatunda datang mencabut nyawa kita. Pergilah ke Sangkal Putung dan temuilah Paman Widura.”

Jantung Agung Sedayu terasa berdentangan. Dengan suara gemetar ia mencoba membantah perintah itu, “Kalau aku bertemu dengan mereka, bukankah kepergianku tidak ada gunanya?”

“Tidak, kau tidak akan bertemu dengan mereka. Aku sudah pasti” jawab Untara. “Tempuhlah jalan barat.”

“Bagaimana dengan tikungan Randu Alas?” Sedayu menjadi semakin cemas.

“Omong kosong dengan gendoruwo mata satu” Untara hampir membentak. “Pergilah!”

Bibir Agung Sedayu tampak bergerak-gerak namun tak sepatah katapun terloncat dari bibirnya, bahkan akhirnya matanyalah yang berkaca-kaca.

Ki Tanu masih belum dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu tiba-tiba menjadi ketakutan. Tetapi sebelum ia bertanya lagi terdengar suara Sedayu mengiba-iba tanpa malu-malu “Kakang, aku takut.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti kini, siapakah sebenarnya Untara dan bagaimanakah dengan Sedayu. Karena itu iapun berdiam diri.

Tiba-tiba orang tua itu terkejut ketika Untara berkata dengan keras sambil meraba hulu kerisnya dengan tangannya yang lemah, “Sedayu, pergilah! Kalau kau tidak mau pergi juga, biarlah kau memilih mati karena kau berbuat seperti seorang laki-laki atau mati karena kerisku sendiri.”

“Kakang!” Sedayu hampir menjerit. Namun wajah Untara seolah-olah telah menjadi beku.

Seakan-akan suara adiknya tidak didengarnya. Bahkan dengan mata terpejam Untara berkata pula, “Bagiku Sedayu, daripada kau mati ketakutan selama Alap-Alap Jalatunda itu nanti mencekikku, lebih baik kau mati dengan luka senjata didadamu.”

Tubuh Sedayu benar-benar menggigil. Jantungnya berdentangan seperti guruh yang menggelegar di dalam rongga dadanya. Sementara itu Ki Tanu Metir berkata dengan terbata-bata, “Angger Untara, apa yang akan Angger lakukan itu?”

“Kalau Sedayu tidak mau pergi, akan aku bunuh dia” desisnya.

“Angger,” Ki Tanu Metir mencoba menenangkannya “jangan berkata begitu.”

Untara tidak menjawab, namun terdengar ia menggeram.

Akhirnya berkatalah Ki Tanu Metir, “Angger Sedayu, kakangmu telah menentukan apa yang akan dilakukan. Karena itu sebaiknya Angger pergi. Bukankah puncak ketakutan Angger itu adalah maut. Dan maut itu berada dalam gubug ini. Kalau Angger pergi ke Sangkal Putung, belum pasti Angger bertemu dengan maut itu. Seandainya demikian, maka maut diperjalanan itu akan jauh lebih baik daripada maut yang akan menerkam Angger disini. Baik itu dilakukan oleh angger Untara, maupun dilakukan Alap-Alap yang gila itu, yang pasti akan jauh mengerikan lagi.”

Kepala Sedayu tiba-tiba menjadi pening. Berdesak-desakanlah perasaan yang bergumul di dalam dadanya. Maut terlalu mengerikan. Dan maut itu tiba-tiba saja kini hadir dihadapannya. Sehingga seperti seorang perempuan cengeng Sedayu membiarkan dirinya hanyut dalam perasaannya tanpa malu. Sedayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan terdengar suaranya gemetar, “Adakah kakang berkata sebenarnya?”

“Akan kulakukan apa saja yang telah aku katakan, Sedayu” suara Untara lirih namun pasti. “Tinggalkan tempat ini segera. Aku sudah muak melihat kau merengek-rengek seperti bayi.”

Dada Agung Sedayu hampir meledak mendengar kata-kata itu. Namun mulutnya bahkan menjadi terkunci. Seperti patung ia tidak bergerak, sampai kakaknya membentaknya, “Pergi sekarang juga!”

Perlahan-lahan Sedayu berdiri. Kakinya hampir-hampir tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Tetapi ia takut. Takut kepada kakaknya. Takut kalau kakaknya akan membunuhnya. Dan ketakutannya itu begitu menekan dadanya, sehingga melampaui ketakutannya atas kegelapan malam diluar dan tikungan randu alas. Karena itu meskipun hayatnya serasa telah terbang meninggalkan tubuhnya, Sedayu berjalan juga menuju ke pintu.

Ketika Ki Tanu Metir mendahuluinya, dan membuka pintu untuknya, orang tua itu mendengar Sedayu menahan isak di dadanya. Maka bisiknya menghibur, “Angger, serahkan jiwa dan ragamu kepada yang memilikinya. Kalau sudah saatnya akan diambil-Nya, maka berlakulah kehendak-Nya meskipun Angger berperisai baja. Namun kalau Angger akan disingkirkan dari bencana, maka berlakulah pula kehendak-Nya itu. Karena itu jangan takut.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, namun ketakutan yang mencekamnya tidak juga mau meninggalkannya.

Di muka pintu sekali lagi ia menoleh kepada kakaknya. Tetapi kakaknya memejamkan matanya. Karena itu Sedayu melangkah terus. Di luar dilihatnya kuda kakaknya. Dengan gemetar ia melangkah ke punggung kuda itu.

“Selamat jalan Ngger” desis Ki Tanu Metir. Agung Sedayu tidak menjawab. Namun kepalanya terangguk. Dengan hati yang kosong ia menarik kekang kudanya, dan ketika kuda itu bergerak menyusup ke dalam malam yang pekat, maka Sedayu merasa seakan-akan dirinya telah menyusup ke daerah maut.

Akhirnya ketika Sedayu sadar, bahwa perjalanan itu harus dilakukannya, maka segera ia memacu kudanya dengan mata yang hampir terpejam. Setiap kali ia membuka matanya, setiap kali dadanya berdesir. Di malam yang gelap itu selalu dilihatnya seakan-akan bayangan-bayangan hitam menghadangnya di perjalanan. Namun ia sudah tidak dapat lagi berpikir. Karena itu ia tidak mau lagi melihat apapun yang berada di perjalanan itu.

Ketika Sedayu telah hilang di balik kekelaman malam, Ki Tanu Metir menutup pintunya kembali. Kemudian perlahan-lahan ia mendekati Untara yang lesu. Dan terdengarlah ia bertanya, “Kenapa hal itu Angger lakukan?”

Untara menarik nafas dalam-dalm. Terdengar ia bergumam, “Mudah-mudahan Tuhan melindunginya.”

Ki Tanu Metir duduk perlahan-lahan di samping Untara. Ia mengangguk-angguk kecil ketika terdengar gumam Untara pula, “Kasihan Sedayu.”

“Tetapi bukankah Angger menghendakinya?” bertanya orang tua itu.

“Aku hanya ingin supaya Sedayu meninggalkan rumah ini dan sekaligus aku ingin paman Widura melindunginya, selain keselamatan laskar paman Widura sendiri. Paman Widura kenal anak itu” jawab Untara.

Kembali Ki Tanu metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tahulah ia sekarang bahwa Untara sama sekali tak bersungguh-sungguh dengan ancamannya.

“Anak itu benar-benar keterlaluan” berkata Untara pula. “Aku hanya menakut-nakutinya, supaya ia mau pergi. Ketakutan hanya dapat dikalahkan dengan ketakutan yang lebih besar. Dan aku sudah berhasil mengusirnya. Mudah-mudahan ia selamat.” Untara berhenti sejenak, kemudian terdengar ia meneruskan dengan susah payah, “Bukankah lebih baik Ki Tanu Metir menyingkirkan aku pula sebelum Alap-Alap Jalatunda datang kemari?”

“Tidak Angger, tidak” sahut orang tua itu cepat-cepat. “Angger memerlukan perawatanku disini.”

“Tetapi,” jawab Untara, “kalau hal itu membahayakan Ki Tanu? Kalau mereka datang kemari, dan ditemuinya aku di sini, maka tidak saja aku yang akan dibunuhnya, tetapi Ki Tanu akan diganggunya pula.”

“Jangan berpikir tentang aku” berkata Ki Tanu Metir. “Luka Angger agak parah, Aku sedang mencoba untuk mengobatinya.”

Untuk sesaat keduanya terdiam. Ketika Untara mendengar derap kuda di halaman, hampir saja ia berteriak memanggil adiknya itu kembali, tetapi segera ia mempergunakan akal dan perhitungannya untuk melawan perasaannya. “Kalau Alap-Alap Jalatunda itu tidak datang kemari, dan Sedayu menemui bencana dalam perjalanannya, akulah yang bertanggung jawab,” katanya dalam hati.

Dan Untara sadar, apabila terjadi demikian maka peristiwa itu pasti akan menyiksanya seumur hidup. Ia akan kehilangan adiknya dan sekaligus ia sama sekali tidak berhasil menyelamatkan Widura dan laskarnya. Tetapi kalau Alap-alap Jalatunda yang bengis itu benar-benar datang ke rumah itu bersyukurlah ia, meskipun nyawanya sendiri pasti akan melayang. Namun ia telah berhasil untuk terakhir kalinya menyelamatkan adiknya.

Tetapi kemungkinan yang lebih jelek lagi, Alap-Alap Jalatunda itu berpapasan dengan adiknya, dan adiknya itu dibunuhnya setelah anak itu menunjukkan tempatnya, kemudian Alap-Alap itu datang membunuhnya.

“Aku telah berusaha” pikir Untara. Segalanya akan mungkin terjadi. Untara menarik nafas dalam-dalam. Dengan penuh kepercayaan kepada kekuasaan Tuhan, Untara berhasil menenangkan dirinya. Bahkan ia berdoa semoga kemungkinan yang paling baiklah yang terjadi. Agung Sedayu selamat sampai Sangkal Putung dan Alap-Alap Jalatunda tidak datang ke pondok itu.

Tetapi Untara terkejut ketika di dengarnya bentakan-bentakan kasar jauh di tikungan jalan. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya Ki Tanu Metir berdiri dengan gelisah.

“Suara apakah itu Ki Tanu?” bertanya Untara lemah.

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menangkap setiap kata-kata kasar dan keras yang memecah kesepian malam itu.

Lamat-lamat terdengar suara itu, “Dimana he, dimana rumah dukun itu?”

Tak terdengar jawaban, namun terdengar seseorang mengaduh perlahan-lahan. Sesaat kemudian terdengar bentakan, “Kalau kau tak mau mengatakan, maka kaulah yang akan kami bunuh.”

“Ampun,” sahut suara yang lain, “aku hanya mendengar suara kuda berderap.”

“Gila, aku tidak bertanya apakah kau mendengar suara kuda itu. Tunjukkanlah rumah Tanu Metir. Orang itu akan mengatakan segala-galanya dan kau akan aku lepaskan” teriak yang lain.

Kembali tak terdengar jawaban, dan kembali terdengar suara kasar dan beberapa buah pukulan.

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Desisnya, “Orang itu tidak mau menunjukkan rumah ini.”

“Kasihan” geram Untara. Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Tetapi tubuhnya sudah terlalu payah. “Ki Tanu,” katanya kemudian, “biarlah mereka menemukan aku. Maka nyawa orang itu dan mungkin nyawa Ki Tanu dapat diselamatkan.”

“Apakah arti nyawa-nyawa kami” jawab Ki Tanu Metir, “Angger adalah salah seorang yang sangat berguna, sedang kami adalah orang-orang yang tak berarti.”

Untara terharu mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa jiwa kepahlawanan tidak saja berkobar di dalam dada para prajurit yang dengan senjata di tangan mempertaruhkan nyawanya demi pengabdiannya kepada tanah kelahiran dan kebenaran yang diyakininya, tetapi di dalam dada orang tua itupun ternyata menyala api kepahlawanan yang tidak kalah dahsyatnya. Melampaui keteguhan hati seorang prajurit dengan senjata ditangan menghadapi lawannya dalam kemungkinan yang sama, membunuh atau dibunuh. Tetapi orang tua itu, seorang dukun yang hidup diantara para petani yang sederhana, telah menantang maut dengan perisai dadanya, kulit dagingnya.

Untara menggeleng lemah, “Tidak,” katanya, “sudah sewajarnya seorang prajurit mati karena ujung senjata, namun tidak seharusnya aku berperisai orang lain untuk keselamatanku. Karena itu biarlah mereka menemukan aku disini. Selagi sempat, biarlah Ki Tanu Metir menyelamatkan diri.”

“Ini adalah rumahku” jawab Ki Tanu Metir. “Kalau aku lari sekarang, maka ke rumah ini pula aku akan kembali, dan orang-orang itu akan dapat menemukan aku disini. Tak ada gunanya.”

Sekali lagi Untara menarik nafas. Sebelum sempat ia menjawab, berkatalah Ki Tanu Metir, “Angger, kenapa kita tidak berusaha menyelamatkan diri kita berdua? Angger akan aku sembunyikan. Kalau-kalau orang-orang yang gila itu datang kemari, dan tidak menemukan Angger, maka akupun akan selamat pula.”

“Hem” Untara menggeram. Belum pernah ia berpikir untuk menyembunyikan diri pada saat musuhnya datang. Tetapi kali ini keadaannya jelek sekali. Bahkan tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah, meskipun darahnya tidak lagi mengalir.

“Mungkinkah itu?” terdengar suara Untara lirih, sedang di tikungan bentakan-bentakan kasar masih terdengar.

“Marilah Angger aku sembunyikan di sentong kiri. Aku timbuni Angger dengan ikatan bulir-bulir padi.”

Ki Tanu Metir tidak menunggu Untara menjawab. Segera ia mencoba menolongnya berdiri. Untara takut kalau-kalau mereka berdua akan roboh, tetapi agaknya Ki Tanu yang tua itu masih cukup kuat untuk memapahnya.

Di sentong kiri, Ki Tanu Metir segera membongkar timbunan bulir-bulir padi. Perlahan-lahan Untara ditolongnya masuk ke dalam sebuah bakul yang besar. “Melingkarlah disitu Ngger, dan berusahalah untuk dapat bernafas” berkata Ki Tanu Metir.

Kembali Untara menggeram, Namun ia mengharap bahwa dengan demikian, ia dan sekaligus Ki Tanu Metir dapat diselamatkan. Lusa apabila luka di bahunya itu sudah sembuh, ia akan datang kembali untuk bertemu dengan Alap-Alap Jalatunda.

Dengan tergesa-gesa Ki Tanu segera menimbuni Untara dengan ikatan bulir-bulir padi. Seikat demi seikat dengan hati-hati. Di dalam bakul yang besar itu Untara memejamkan matanya. Terasa nafasnya menjadi semakin sesak. Namun ia masih dapat bernafas.

Demikian Ki Tanu selesai dengan pekerjaannya, terdengar pintu rumahnya diketuk keras-keras, dan terdengarlah suara kasar memanggilnya, “Mbah dukun, buka pintumu!”

Untara menjadi berdebar-debar. Ternyata Alap-Alap Jalatunda atau orang-orangnya benar-benar datang. Meskipun demikian ia masih dapat mengucap syukur karena adiknya telah pergi.

Untuk sesaat Ki Tanu Metir berdiri dengan tegang. Ia tidak segera beranjak dari tempatnya sehingga terdengar kembali pintu rumahnya dipukul keras-keras, “He, buka pintu Ki Tanu!”

Ki Tanu tidak mungkin untuk mengelak lagi. Karena itu dengan terbata-bata ia berteriak dari sentong kiri, “Ya, ya tunggu. Aku sudah bangun.”

Tersuruk-suruk Ki Tanu Metir bergegas pergi ke pintu, dengan menyeret telumpah dikakinya. Sementara itu kembali terdengar pintunya hampir berderak patah, “Aku tidak sempat menunggu!” terdengar suara di belakang pintu.

“Ya, ya,” sahut orang tua itu, “aku sedang berjalan.”

Sesaat kemudian Ki Tanu Metir telah membuka pintunya. Demikian pintu itu menganga, demikian beberapa orang dengan senjata di tangan berloncatan masuk. Dua orang yang lain memasuki rumah itu sambil mendorong-dorong seorang yang bertubuh kecil pendek.

Bersambung ke Bagian 4

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama